07 September 2013

You gave me The Key

Setiap kali mendengar lagu ini aku merasakan rasa syukur yang menggugah hati.

Menyadari sepenuhnya bahwa dengan menerima Knowledge,
Aku telah menerima Kunci pembuka pintu gerbang hatiku.

Bagiku untuk masuk ke dalam
dan menemukan kekayaan batin disana.

Terima kasih Maharaji





02 Januari 2011

Mangkok Yang Berkilauan




" Berkilaulah dengan tanpa cela, karena kamu tidak pernah tahu kapan tsunami itu akan menimpa. "



Aku ingin menceritakan sebuah cerita kecil yang benar-benar terjadi. Ketika aku berada di Pasific untuk tur, seseorang dari Sri Lanka, salah satu dari tempat-tempat yang rusak berat terkena tsunami, mengirimi saya sebuah mangkok. Dengan itu ada sebuah catatan menerangkan bahwa mangkok ini sudah ada di keluarga mereka, dan beberapa hari sebelum tsunami, mereka sudah memutuskan untuk membersihkannya. Mereka melakukannya, memolesnya, membuatnya benar-benar berkilauan.

Kemudian tsunami menimpa, dan semua yang mereka punya hancur, terseret ke laut. Keesokan harinya, mereka pergi untuk melihat kalau-kalau mereka bisa menemukan sesuatu, dan diantara semua sampah yang sudah terseret gelombang ada mangkok ini, bercahaya dibawah sinar matahari. Lautan entah bagaimana telah mengembalikan mangkok itu, dan ia ada di pasir, ditengah-tengah semua sampah—bercahaya.

Kenapa cerita itu penting? Ini adalah kehidupanmu, eksistensimu. Berkilaulah dengan tanpa cela, karena kamu tidak pernah tahu kapan tsunami itu akan menimpa. Pertanyaannya bukan kalau-kalau ia akan menimpa—ia akan menimpa. Dan ketika ia menimpa, begitu banyak yang kita bangga-banggakan, begitu banyak yang telah kita punya stempel sebagai milik kita, begitu banyak yang kita pikir mestinya milik kita, menjadi lenyap. Itu seperti rumah yang terbuat dari kartu disusun diatas satu dengan lainnya. Itu sangat mudah roboh. Satu angin kecil akan meruntuhkannya.

Aku melihat pertentangan bahwa, ditengah-tengah kerusakan dan sampah, sebuah mangkok bercahaya—tidak menyembunyikan dirinya— tapi bercahaya. Dan ia bercahaya cemerlang karena seseorang menyediakan waktu untuk membersihkan dan memolesnya. Masing-masing kita adalah sebuah mangkok. Apakah mangkok ini bercahaya atau tidak? Apa ia ternodai oleh semua baik dan buruk, oleh semua ide, oleh daftar semua hal yang tidak ada dalam kehidupan kita? Kalau begitu, ambillah kain dan buatlah poleslah mangkok ini supaya ia bisa memantulkan kejernihan, karena itulah apa ia sebenarnya: kejernihan.

Apakah yang sudah kita cita-citakan untuk kita capai? Kita lebih tertarik dengan acara-acara kita daripada sesuatu yang akan menfasilitasi semua daftar panjang yang sudah kita buat—kehidupan. Tanpa kehidupan, tidak akan ada acara. Sesuatu yang kita pikir adalah lem dalam kehidupan nyatanya adalah tidak; mereka hanya nampaknya saja begitu. Tak peduli apa yang kamu lakukan—entah kamu berusaha menjadi cakap dalam bisnis, jadi ibu atau ayah yang baik, atau jadi kawan baik— apa yang pada dasarnya mendorong kamu, yang menginginkan kamu untuk berkembang?

Apa sesuatu yang paling penting bagimu sebagai seorang manusia? Sesuatu yang paling penting adalah datang dan perginya nafas ini. Itulah ia adanya. Tanpa nafas itu, bagimu tidak akan ada apapun. “Habis perkara?” Ya begitulah adanya, karena dalam nafas itu terletak kebenaranku, kebijaksanaanku. Itu adalah jamku, itu adalah ritmeku, itu adalah laguku, itu adalah tabuhan genderangku yang aku perlu menari mengikuti iramanya.

Ini adalah semua yang aku telah diberi. Semua yang lain adalah seperti memegang balon udara. Sekali kamu lepaskan, mereka akan pergi. Jauh dan jauh dan jauh. Biarkan aku mengagumi yang aku telah diberi. Biarkan aku membersihkan mangkokku sehingga ia akan bersinar dan bahkan tsunami-pun tidak bisa mengambilnya.

Biarkan kehidupanmu jadi seperti itu. Biarkan ia berkilauan. Itulah kemungkinannya. Damai adalah kemungkinan. Kesenangan adalah kemungkinan. Kepuasan adalah kemungkinan. Terimalah itu dalam kehidupanmu. Pahamilah itu. Ini adalah untuk apa kita berada di sini.

Prem Rawat

20 Agustus 2010

Lautan dalam Tetesan

Baru-baru ini, Saya berbicara di India pada banyak acara mengungkapkan bahwa hal yang paling penting yang kita punya adalah eksistensi ini. Ketika andalahir, Anda disuguhi dengan sebuah pengalaman yang disebut kehidupan. Dan dalam kehidupan ini, apa yang Anda punya?

Anda punya nafas. Anda punya hari. Anda punya jam. Anda punya menit. Anda punya detik. Inilah realitas Anda. Ini bukan cerita rekaan. Ini bukan suatu konsep. Apa yang Saya bicarakan, apa yang saya mau alami dalam kehidupan saya, dan apa yang saya ingin Anda alami bukan cerita fiksi. Itu adalah realitas. Realitas yang bisa Anda sentuh, yang bisa Anda rasakan, yang bisa Anda pahami. Penerimaan dalam kehidupan Anda seharusnya karena apa yang Anda tahu, pahami, rasakan. Tidak dalam pikiran, tapi rasa.

Ada seuntai bait indah dari India: “Bahwasanya tetesan bersemayam di lautan, semua orang tahu; tapi bahwasanya lautan bersemayam dalam tetesan, sangat sedikit yang tahu ini.” Saya ingin Anda menjadi jumlah sangat sedikit yang paham ini.

Sesuatu yang luar biasa itu-di dalamnya ada semuanya, tapi hal yang luar biasa itu ada di dalam Anda, juga. Anda adalah tetesan. Bukan tetesan cairan, Anda adalah tetesan. Lautan ada di dalam Anda. Dan ya, Anda bisa merasakan itu. Saya paham itu, karena energi yang sama itu ada di mana-mana datang kepada saya berupa nafas yang menyentuh saya, membawa karunia kehidupan.


“Bahwasanya tetesan bersemayam di lautan, semua orang tahu; tapi bahwasanya lautan bersemayam dalam tetesan, sangat sedikit yang tahu ini.”


Bagi begitu banyak orang, kehidupan berarti, “Anda punya pekerjaan, Anda punya anak, Anda punya rumah, Anda punya kucing, Anda punya anjing….” Itu bukan kehidupan. Itu adalah hal-hal dalam kehidupan Anda. Ada semua hal yang relatip, dan ada satu hal yang mutlak, dan itu ada dalam dirimu. Kamu punya kehidupan. Itu adalah mutlak. Pada suatu waktu ia tidak akan ada. Tapi selama Anda hidup dan Anda punya daya menjadi sadar, menyadari akan sesuatu yang merupakan kehidupan hakiki. Sadar akan eksistensi yang Anda miliki ini karena menginsafi eksistensi itu membawa kesenangan, menginsafi eksistensi itu membawa damai. Kedamaian hakiki.

Apakah kedamaian hakiki itu? Beberapa orang berkata, “Serahkan semua, maka Anda akan mendapatkan damai.” Tidak, tidak begitu. Kalau menyerahkan semua membuat orang-orang damai dan bahagia, mereka akan langsung menutup penjara-penjara, karena ganjarannya akan jadi: Anda melakukan sesuatu salah, dan bukannya mendapat hukuman, Anda ditempatkan di lingkungan dimana Anda menjadi damai dan bahagia. Sehingga itu membuktikan maksud: menyerahkan semua tidak akan membawa damai. Tapi bagaimanapun juga keadaannya, ada tempat di dalam kita, dan kalau kita bisa mencapai tempat itu, kita bisa merasakan damai itu.

Inilah siapa Anda. Inilah siapa Saya. Sesungguhnya dalam tetesan ini yang adalah kita adanya bersemayam lautan damai yang tidak terbatas. Jadilah salah satu dari yang sangat sedikit yang mengetahui ini, karena itu adalah prestasi tiada bandingannya. Anda perlu damai, Anda perlu kebahagiaan, karena Anda adalah seorang manusia. Ini adalah sifat-dasar Anda. Anda tidak bisa mengalahkannya. Ini bukan problem yang harus Anda pecahkan.

Permintaan untuk menjadi bahagia itu datang dari dalam diri Anda. Jangan meremehkannya. Karena selama Anda hidup, permintaan untuk berada dalam kebahagiaan dan dalam damai itu akan ada disana.

Kalau dukacita adalah sebuah pisau, maka kebahagiaan adalah penyembuhnya. Beradalah dalam kebahagiaan.


Alangkah tepatnya bahwa lautan itu bersemayam dalam diri Anda. Kemanapun Anda pergi, ia ada disana. Pada suatu waktu tetesan itu akan pergi dan bersemayam di lautan. Tapi selama keajaiban nafas ini berlangsung, lautan bersemayam dalam ini tetesan yang itu adalah Anda, yang itu adalah Saya. Ketika tetesan bercampur dengan lautan itu, ia tak akan lagi menjadi tetesan. Ia hanya akan menjadi lautan. Tapi selama jangka waktu yang relatip singkat, sesuatu yang luar biasa telah terjadi.

Keajaiban dari yang ajaib telah terjadi. Tetesan dipisahkan dari lautan, dan lautan telah bergerak dalam tetesan. Ini ada;aj realitas. Ini adalah apa yang sedang terjadi. Rebutlah itu. Terpenuhilah. Ikutlah sifat-dasar itu. Beradalah dalam damai. Bersukarialah.

Kalau dukacita adalah sebuah pisau, maka kebahagiaan adalah penyembuhnya. Beradalah dalam kebahagiaan. Anda punya banyak luka, dan luka-luka itu menyebabkan kepedihan. Anda tidak perlu berada dalam kepedihan. Mewujudlah. Hidup. Selama keajaiban ini berlanjut, saksikanlah. Jangan beralih, karena ia akan segera berlalu. Temukan sumber kesenangan yang ada dalam diri Anda. Milikilah damai itu dalam kehidupan Anda setiap hari.


Prem Rawat

07 Juni 2010

Singa yang Percaya Dirinya adalah Domba

Apa yang aku bicarakan sebenarnya sederhana karena ia adalah tentang kehidupan. Kehidupan, bagi begitu banyak orang sudah menjadi luar biasa sulit. Kita semua tenggelam dalam laut definisi. Pertanyaan sederhana diajukan: “Siapakah kamu?” Dan jumlah jawaban yang kamu terima adalah tak terbayangkan.

Baru-baru ini, aku sedang berbicara di suatu tempat dan mereka punya motto ini: “Melayani di atas diri.” Aku berkata, “Tapi kalau tidak ada diri, apa yang akan melayani? Jadi harus ada diri.” Ini adalah apa yang dikatakan Socrates: “Kenalilah dirimu sendiri.” Apakah artinya untuk mengenali diri yang itu adalah kamu?

Aku punya cerita kecil sederhana yang ayahku biasanya ceritakan. Pada suatu hari, petani berjalan lewati sebuah hutan dan dia bertemu seekor anak singa kecil yang telah tersesat. Dia mengambilnya, membawanya pulang, dan meletakkannya dalam gudang bersama dengan dombanya. Seiring dengan berlalunya waktu, anak singa itu semakin besar, bermain dan merumput dengan domba. Inilah semua yang dia tahu.

Pada suatu waktu, selagi domba-domba sedang merumput, seekor singa besar berjalan keluar dari hutan. Semua domba menjadi ketakutan dan berlari kesana kemari, dan begitu juga dengan singa kecil itu. Si singa besar pergi mendekati singa kecil ini, yang sebenarnys juga tidak kecil lagi, dan berkata, “Kenapa kamu takut aku?” Katanya, “aku adalah seekor domba kecil, dan kamu akan memakanku!” Singa itu berkata, “Kamu bukan domba. Ayo ikut aku.” Dia membawanya ke kolam dan berkata, “Sekarang, lihatlah.” Dan ketika dia melihat, dia terkejut: “aku bukan seekor domba. Aku seperti kamu!” Singa itu berkata, “Itu benar. Kamu seperti aku. Sekarang berhentilah bertingkah seperti domba dan mengaumlah sebagaimana singa besar seharusnya.” Maka singa besar mengaum dan singa kecil mengaum. Dan singa kecil mulai berterima kasih kepada singa besar. Dan singa itu berkata, “Semua yang aku lakukan adalah menunjukkan kepadamu siapa kamu sesungguhnya. Bahkan sebelum aku melangkah keluar dari hutan itu, inilah siapa kamu adanya, karena ini adalah apa kamu yang sesungguhnya.”

Kemampuanmu untuk merasakan kesenangan adalah unik. Ini adalah sifat dasarmu - sebuah bagian dari kamu. Kamu punya keengganan untuk menderita dan ketertarikan pada kesenangan.


Kita, juga, kehilangan siapa kita adanya di muka bumi ini. Kemampuanmu untuk merasakan kesenangan adalah unik. Ini adalah sifat dasarmu - sebuah bagian dari kamu. Kamu punya keengganan untuk menderita dan ketertarikan pada kesenangan. Maka temukan dalam kehidupanmu kesenangan yang tidak pernah berujung, kesenangan yang kamu tidak bisa tinggalkan, kesenangan yang kamu bawa bersamamu kemanapun kamu pergi.

Kalau kamu punya kapal dan ingin melabuhkannya di dermaga, kamu perlu mengikatkannya pada sesuatu yang tidak akan hanyut. Karena itu orang-orang membawa jangkar bersama mereka. Apa itu yang tidak hanyut? Untuk menemukan jawabannya, kamu perlu untuk bisa mengetahui diri sejatimu, karena diri sejatimu adalah yang tidak hanyut. Dalam pikiran, singa itu adalah domba, tapi ketika dia bisa melihat realitas, dia mengerti bahwa dia bukanlah domba.

Realitasmu adalah sederhana. Keinginan untuk terpenuhi sudah selalu ada disana. Keinginan untuk senang hati sudah selalu ada disana. Itu bukan hal baru. Dan keinginan ini akan ada disana sampai akhir hayat. Ia ada sejak semula; ia ada sampai akhir. Keinginan untuk berada dalam damai itu tidak berubah. Kehausan untuk terpenuhi itu tidak berubah. Maka jangkarkanlah ia pada realitas itu, dan kamu tidak akan hanyut. Jangkarkan pada keindahan yang itu ada dalam dirimu, dan kamu tidak akan hanyut. Semua yang lain akan berubah sebagaimana ia selalu begitu. Sebagai ia akan selalu begitu.

Semua terus berubah, kecuali kamu. Ada sesuatu tentang kamu yang tidak berubah. Temukan yang tidak berubah itu. Dan ikatlah dengan baik kapal kehidupan ini pada yang tidak berubah itu. Kemudian, beristirahatlah.

21 April 2010

Mangkok Yang Berkilauan

Aku ingin menceritakan sebuah cerita kecil yang benar-benar terjadi. Ketika aku berada di Pasific untuk tur, seseorang dari Sri Lanka, salah satu dari tempat-tempat yang rusak berat terkena tsunami, mengirimi saya sebuah mangkok. Dengan itu ada sebuah catatan menerangkan bahwa mangkok ini sudah ada di keluarga mereka, dan beberapa hari sebelum tsunami, mereka sudah memutuskan untuk membersihkannya. Mereka melakukannya, memolesnya, membuatnya benar-benar berkilauan.

Kemudian tsunami menimpa, dan semua yang mereka punya hancur, terseret ke laut. Keesokan harinya, mereka pergi untuk melihat kalau-kalau mereka bisa menemukan sesuatu, dan diantara semua sampah yang sudah terseret gelombang ada mangkok ini, bercahaya dibawah sinar matahari. Lautan entah bagaimana telah mengembalikan mangkok itu, dan ia ada di pasir, ditengah-tengah semua sampah—bercahaya.

Ini adalah kehidupanmu, eksistensimu. Berkilaulah dengan tanpa cela, karena kamu tidak pernah tahu kapan tsunami itu akan menimpa.


Kenapa cerita itu penting? Ini adalah kehidupanmu, eksistensimu. Berkilaulah dengan tanpa cela, karena kamu tidak pernah tahu kapan tsunami itu akan menimpa. Pertanyaannya bukan kalau-kalau ia akan menimpa—ia akan menimpa. Dan ketika ia menimpa, begitu banyak yang kita bangga-banggakan, begitu banyak yang telah kita punya stempel sebagai milik kita, begitu banyak yang kita pikir mestinya milik kita, menjadi lenyap. Itu seperti rumah yang terbuat dari kartu disusun diatas satu dengan lainnya. Itu sangat mudah roboh. Satu angin kecil akan meruntuhkannya.

Aku melihat pertentangan bahwa, ditengah-tengah kerusakan dan sampah, sebuah mangkok bercahaya—tidak menyembunyikan dirinya— tapi bercahaya. Dan ia bercahaya cemerlang karena seseorang menyediakan waktu untuk membersihkan dan memolesnya. Masing-masing kita adalah sebuah mangkok. Apakah mangkok ini bercahaya atau tidak? Apa ia ternodai oleh semua baik dan buruk, oleh semua ide, oleh daftar semua hal yang tidak ada dalam kehidupan kita? Kalau begitu, ambillah kain dan buatlah poleslah mangkok ini supaya ia bisa memantulkan kejernihan, karena itulah apa ia sebenarnya: kejernihan.

Apakah yang sudah kita cita-citakan untuk kita capai? Kita lebih tertarik dengan acara-acara kita daripada sesuatu yang akan menfasilitasi semua daftar panjang yang sudah kita buat—kehidupan. Tanpa kehidupan, tidak akan ada acara. Sesuatu yang kita pikir adalah lem dalam kehidupan nyatanya adalah tidak; mereka hanya nampaknya saja begitu. Tak peduli apa yang kamu lakukan—entah kamu berusaha menjadi cakap dalam bisnis, jadi ibu atau ayah yang baik, atau jadi kawan baik— apa yang pada dasarnya mendorong kamu, yang menginginkan kamu untuk berkembang?

Apa sesuatu yang paling penting bagimu sebagai seorang manusia? Sesuatu yang paling penting adalah datang dan perginya nafas ini. Itulah ia adanya. Tanpa nafas itu, bagimu tidak akan ada apapun. “Habis perkara?” Ya begitulah adanya, karena dalam nafas itu terletak kebenaranku, kebijaksanaanku. Itu adalah jamku, itu adalah ritmeku, itu adalah laguku, itu adalah tabuhan genderangku yang aku perlu menari mengikuti iramanya.

Apa sesuatu yang paling penting bagimu sebagai seorang manusia? Sesuatu yang paling penting adalah datang dan perginya nafas ini. Itulah ia adanya. Tanpa nafas itu, bagimu tidak akan ada apapun.


Ini adalah semua yang aku telah diberi. Semua yang lain adalah seperti memegang balon udara. Sekali kamu lepaskan, mereka akan pergi. Jauh dan jauh dan jauh. Biarkan saya mengagumi apa yang aku telah diberi. Biarkan saya membersihkan mangkokku sehingga ia akan bersinar dan bahkan tsunami-pun tidak bisa mengambilnya.

Biarkan kehidupanmu jadi seperti itu. Biarkan ia berkilauan. Itulah kemungkinannya. Damai adalah kemungkinan. Kesenangan adalah kemungkinan. Kepuasan adalah kemungkinan. Terimalah itu dalam kehidupanmu. Pahamilah itu. Ini adalah untuk apa kita berada di sini.

Maharaji

@ Prem Rawat Foundation

21 Maret 2010

Sifat-dasar Kita


Kenapakah ketika anda senang hati, ketika anda bahagia, anda benar-benar menjadi baik hati? Anda memaafkan.


Apa yang saya bicarakan sangatlah sederhana karena ia tentang anda. Kebanyakan kita berpikir tentang diri kita sendiri, tentang apa yang sedang kita lakukan di sini, dalam cara yang paling sulit. Ide berlimpah-limpah. Tapi kalau anda bisa mulai paham sifat dasar anda-siapa anda-mungkin beberapa penyederhanaan bisa mulai terjadi.

Sesederhana ia adanya, sangatlah berharga untuk mengenali sifat dasar kita. Kenapakah ketika anda senang hati, ketika anda bahagia, anda benar-benar menjadi baik hati? Anda memaafkan. Kalau seseorang menyerobot di depan anda di jalan, itu tidak masalah. Ketika anda sedang tidak senang hati, ketika anda sedang frustrasi, kalau seseorang menyerobot di depan anda, anda menekan klakson anda.

Pemenuhan, damai, kesenangan, pemenuhan-ketika kita mempunyai itu, kita benar-benar bertindak dan bereaksi terhadap sesuatu dengan cara yang samasekali berlainan. Bagaimana kita berbicara, bagaimana kita bereaksi, bagaimana kita sebenarnya menanggung masalah-masalah samasekali berbeda. Anak datang dan berkata, “Ayah, Ibu, bisa saya minta uang? Saya mau membeli es krim.” “Tentu, dan sekalian saja, belikan saya satu, juga.” Pandangannya berbeda: Sesuatunya baik. Matahari bercahaya-meski di siang yang mendung. Makanan hangus di dapur? “Tidak masalah. Ayo kita pesan pizza dan bersenang-senang!”


Tapi ketika sesuatu di dalam tidak terpenuhi, tiada suatu hal kecilpun dapat ditoleransi.


Tapi ketika sesuatu di dalam tidak terpenuhi, tiada suatu hal kecilpun dapat ditoleransi. Kalau anda setuju meski sedikit saja dengannya, apa yang seharusnya anda coba kerjakan? Apa yang seharusnya anda coba lakukan dalam kehidupan anda? Kata kuncinya adalah mencoba-membuat beberapa usaha ke arah merasakan damai itu, pemenuhan itu.

Ide damai tidak bermula kemarin. Tujuan ini ditentukan sejak dahulu kala. Perabadan sangat bangga dengan apa yang telah mereka capai, tapi tujuan yang ditentukan sejak dahulu kala bagi seluruh kemanusiaan itu belum tercapai. Pergi ke bulan sudah tercapai. Tapi damai telah diabaikan.

Siapapun yang muncul dengan ide “perdamaian dunia,” melakukan perbuatan besar yang merugikan karena ia mengambil beban damai dari kita dan meletakkannya pada dunia- mitos yang disebut dunia ini. Damai adalah tanggung jawab dan harga bagi setiap orang manusia. Dan kedamaian individulah yang perlu dicari, diakui, dan dicapai dalam kehidupan ini. Inilah apa yang harus terjadi.

Di mana pemenuhan itu? Ia ada dalam diri anda. Apa yang anda cari ada dalam diri anda. Orang-orang menghabiskan ribuan dolar mencoba menukar tabiat mereka, dan padahal itu sangat mudah. Bersenang hatilah dan tabiat anda secara otomatis bertukar. Pandangan? Positip.

Anda tidak dibuat dengan sebuah alat pemotong kue. Tapi seseorang, sesuatu, menciptakan semua orang-orang ini, dan tak ada dua orangpun yang mirip. Bahkan tidak juga anak kembar. Itu adalah amat pribadi-untuk membuat setiap satu makhluk dengan begitu banyak ketelitian. Setiap hari mendapatkan nafas itu datang-itu adalah sejumlah bagian kecil-kecil yang menakjubkan. Setiap hari, mendapatkan hati menyanyikan lagu yang tidak pernah sama-dan selalu sama.

Bagaimana anda mulai berterima kasih? Bagaimana anda mulai merasakan keajaiban dalam kehidupan anda itu?


Bagaimana anda mulai berterima kasih? Bagaimana anda mulai merasakan keajaiban dalam kehidupan anda itu? Bagaimana anda mulai merayakan jenis keindahan itu? Jawabannya: Lihatlah ke dalam. Dengarkan. Dengarkan keinginan anda tanpa takut. Dengarkan alangkah manis itu, alangkah lembutnya ia, alangkah gagah dan gigihnya ia.

Ada hanya satu kehidupan-banyak hari, tapi satu kehidupan. Dari dasar hati anda, nikmati setiap satu harinya. Itu adalah hal yang tak paling ternilai. Setiap nafas yang masuk kepada anda-anda tidak bisa membelinya, anda tidak bisa menukarnya, anda tidak bisa memberikannya. Itu adalah milik anda.


Prem Rawat Foundation

17 Maret 2010

Pantulan Damai


Ketika hati penuh, ketika manusia penuh, kemudian secara otomatis, orang tidak berada dalam dualitas, tidak dalam pertanyaan, tapi dalam jawaban.


Semua orang ingin damai, kemana saja anda pergi. Tidak lama berselang, saya berbicara ke beberapa tawanan, “Apakah anda ingin damai?” “Tentu saja!” Anda bisa berbicara ke orang-orang di dinas Tentara, “Apakah anda ingin damai?” “Ya, tentu saja!” Jadi semua orang ingin damai. Dan kemudian, anda bertanya, “Apakah damai?” Dan di sini, anda menerima jawaban yang mengagetkan. Semua orang punya versi damai mereka sendiri dan semua orang melihatnya dari sudut yang samasekali berbeda.

Di hari yang lain, saya berbicara ke keponakan saya, dan katanya, “Oh, saya cinta warna itu.” Saya berkata, “Anda cinta warna itu? Atau anda suka warna itu?” Katanya, “Apa bedanya?” Saya berkata, “Ada perbedaan yang sangat besar. ‘Suka’ adalah sebenarnya apa yang ingin anda katakan, dan anda bisa memberi tekanan bahwa, ‘saya sangat menyukainya,’ tapi cinta sedikit lebih interaktif daripada yang warna bisa sediakan bagi anda.”

Dan dalam cara yang sama, ketika hening, orang-orang berkata, “Oh, suasanya begitu damai.” Semua yang ada, adalah hening. Orang-orang berpikir ketiadaan perang adalah damai. Mereka punya ide damai mereka. Ada orang-orang yang berpikir damai adalah ketika semua orang berjalan dengan sangat pelan, memakai jubah panjang dengan bunga-bunga pada rambut mereka, dan semua orang disapa dengan lambang damai. Anda tidak berjabat tangan lagi. Barangkali anda hanya menyentuhkan dua jari dan berkata, “Damai.” Yaa, tiada batas untuk itu kan?

Biar saya ceritakan kepada anda sebuah kisah. Dulu ada seorang ratu, dan dia punya kalung yang sangat indah. Pada suatu hari, setelah mandi, dia berada di balkon sedang mengeringkan rambutnya. Dia melepaskan kalungnya dan meletakkannya pada sebuah gantungan. Seekor burung gagak terbang berlalu, melihat kalung bercahaya yang terkena sinar matahari, dan membawanya terbang bersamanya. Tapi burung gagak menjatuhkannya pada sebuah pohon, dan ia terkait pada salah satu cabang.

Dibawah pohon itu ada sungai yang kotor dan bau. Sekarang, ketika sang ratu menjangkau kalungnya dan mendapatinya hilang, dia menjadi sangat marah. “Siapa yang mencurinya?” Dia menyuruh semua orang mencarinya. Tak seorangpun bisa menemukannya. Dia berkata pada raja, “Kalau saya tidak menemukan kalung saya, Saya tidak akan pernah makan lagi.” Si Raja sangat gelisah dan mengirim semua tentaranya dan orang-orang untuk mencarinya—tapi tak seorangpun bisa menemukannya. Jadi si raja akhirnya membuat pengumuman. “Siapapun yang temukan kalung akan mendapat setengah dari kerajaan saya.” Maka orang-orang mulai mencari dengan serius.

Pada suatu hari, seorang jendral berjalan melewati pohon dan melihat kalung itu dalam sungai dibawahnya. Dia langsung terjun ke dalam sungai yang berisi kotoran karena dia menginginkan setengah kerajaan. Seorang Menteri melihat si jendral melompat dalam sungai, dan dia, juga, melihat kalung itu, dan ikut melompat ke dalam. Raja melihat jendral dan menterinya mencari kalung itu, juga melompat ke dalam, dan sekarang mereka bertiga mencari-carinya dalam air. Tak lama kemudian, semakin banyak tentara dan penduduk desa berdatangan, dan mereka semua melompat ke dalam.

Akhirnya, seorang dengan sedikit kebijaksanaan berkata, “Apa yang sedang kalian lakukan? Kalung itu tidak di bawah sana; ia ada di atas sana. Kalian melompat mengejar bayangan.” Maka si raja berkata, “Karena anda yang menemukannya, setengah dari kerajaan adalah milik anda.” Dan manusia bijaksana itu berkata, “saya tidak perlu kerajaan anda. Anda jaga saja.”

Kenapa saya ceritakan kisah ini? Karena itulah apa yang juga kita melakukan. Kita hanya melihat pantulan damai. Itu baik ketika tidak ada perang, tapi itu adalah pantulan damai—itu bukanlah damai itu sendirinya. Damai bermula dengan setiap orang manusia di muka bumi ini. Itulah kalungnya. Semua yang lain adalah sebuah pantulan.

Juga dalam situasi yang paling putus asa, ada harapan. Ini adalah siapa kita adanya. Ada kegembiraan, ada pengertian, ada kekuatan bagi setiap orang manusia. Dan itu adalah kekuatan untuk bergerak maju menuju pintu gerbang kedamaian batin.



Ketika hati penuh, ketika manusia penuh, kemudian secara otomatis, orang tidak berada dalam dualitas, tidak dalam pertanyaan, tapi dalam jawaban. Tidak rumit, tapi sederhana—itulah kita adanya. Ini adalah apa yang kita inginkan; ini adalah siapa kita perlu untuk menjadi. Ini adalah sifat-dasar kita. Ketika kita berada dalam keseimbangan itu dimana hati kita penuh, sifat-dasar kita yang sejati bercahaya. Dan sifat-dasar sejati yang kita miliki adalah indah. Ia adalah sejati. Dan itu adalah tempat dari damai sejati. Kita mencarinya begitu jauh padahal ia ada sangat dekat dengan kita.

Juga dalam situasi yang paling putus asa, ada harapan. Ini adalah siapa kita adanya. Ada kegembiraan, ada pengertian, ada kekuatan bagi setiap orang manusia. Dan itu adalah kekuatan untuk bergerak maju menuju pintu gerbang kedamaian batin.

@ Prem Rawat Foundation

19 Februari 2010

Takut atau Percaya?

Dunia ini penuh dengan orang yang mencari penyelesaian tanpa mengenali apa masalahnya.


Itu adalah seperti kiasan dari rumah dengan kotoran di sekelilingnya. Setiap hari angin bertiup dan kotoran akhirnya ada di rumahmu. Tiap kali kamu melihat iklan tentang mesin penyedot kotoran atau kamu melihat penemuan baru untuk melenyapkan debu, kamu mendengarkan. Beginilah bagaimana kemajuan kehidupan orang—menunggu, mengharap bahwa seseorang akan muncul dengan alat penghisap debu yang lebih ringan berdaya lebih. Kamu mendengar, "Bawalah milikmu yang lama; kami akan memberimu diskon, dan kamu bisa membawa pulang yang baru, yang lebih baik." Tidak semua orang menanti perangkap tikus yang lebih bagus? Penyelesaian bagi masalah-masalah kita.

Dan seseorang berkata, "Kamu tidak perlu alat penghisap debu; kamu tidak perlu lap. Masalah kotoran ini bisa ditangani." "Tapi, bagaimana bisa?" Beberapa orang dengan sedikit kebijaksanaan berkata, "Oke. Katakan padaku." Penyelesaian? Tanamlah rumput.
Mungkin permukaannya dipasang ubin. Problemmu adalah debu, tapi itu dipertajam oleh kenyataan bahwa ada begitu banyak debu diluar dan ketika kamu membuka jendelamu, angin meniupnya ke dalam.

Apakah itu masuk akal? Tentu. Dalam hidup kamu, perhatikan. Penyelesaian apa yang sedang kamu cari? Apa yang sedang kamu coba pecahkan? Apa yang kamu sebagai seorang manusia—bukan sebagai orang tua, kerabata, karyawan, majikan—apa yang kauinginkan dalam hidup kamu?

Kalau satu hal yang telah kamu kenali terus berubah, kamu belum menemukan keinginan sejatimu. Karena keinginan yang paling sejati tidak berubah. Itu adalah sifat-dasarnya, keindahannya. Ia tidak termakan oleh apa yang terjadi di sekelilingmu—siapa yang datang dan pergi dalam hidup kamu. Ia tidak ada urusannya dengan itu.

Kamu hidup di dunia yang terus-menerus berubah. Kamu tinggal di rumah yang berubah setiap hari. Semua segel pintu memburuk sedikit demi sedikit. Tak peduli betapa kuat rumahmu, ia pelan-pelan ambrol. Bumi bergeser. Semua debu ini yang kamu sudah coba untuk lenyapkan berkumpul, memadat, dan membuat planet bumi ini, dan sekarang ia bergeser. Setiap hari manakala kamu terus menjalankan usahamu, inilah apa yang sedang terjadi. Dan di sini kamu adanya.

Bayangkan bahwa kamu berlibur seminggu, dan kau tahu liburan akan berakhir sejak kamu memulai. Kamu bisa berkata, "Oh, ini mengerikan. Ia akan berakhir." Apakah itu apa yang kamu lakukan—berkeluh-kesah? "Aku tidak berani bersenang-senang karena aku tahu ia akan berakhir." Tidak. Malah sebaliknya. Kamu mau punya waktu terbaik yang mungkin kamu bisa dalam hari-hari itu. Kamu tidak mau melalaikan sekejap, sejampun—kamu mau itu semua. Dan begitulah bagaimana hidup kamu seharus dijalani. Karena liburan ini disebut kehidupan yang akan berakhir. Takut bukanlah maksudnya. Begitu banyak orang terperangkap di dalamnya. Kehidupan ini tak dapat dijalani dalam ketakutan atau meratap. Kehidupan ini perlu dijalani dengan hasrat—akan pengertian, keheningan, perasaan terpenuhi setiap harinya.

Kita mencari penyelesaian ke masalah-masalah kita dalam konsep impian/utopia. Lakukan ini dan itu, dan pada akhirnya datanglah waktu yang sangat bagus ini dimana semuanya sempurna, aku punya realisasi total, semua yang aku lihat adalah keheningan, dan aku tahu semua.

Tidak ada impian/utopia seperti itu. Negari impianmu datang setiap hari, karena setiap hari bahwa kamu hidup adalah sempurna. Bukalah matamu dan lihatlah alangkah indah eksistensi, alangkah indah karunia ini. Kemungkinan.


Baru-baru ini, seekor burung kolibri membangun sarang kecil diluar kantorku, dan meletakkan dua telur kecil. Si ibu akan datang dan duduk, dan kemudian telur itu pecah. Aku memastikan tak seorangpun mengganggunya. Yang pertama keluar, duduk pada cabang, dan kemudian melenturkan sayap-sayapnya. Aku bisa untuk mengambil beberapa foto-foto cantik. Si ibu duduk pada cabang yang lain mengawasi. Kami membuat wadah madu supaya dia bisa mendapat makanan didekatnya, dan dia oke saja dengan itu.

Bayi burung ini harus punya keyakinan mutlak. Takut atau "tidak mengapa" adalah dua pilihan. Tidak logis, tiada pertimbangan. Bukannya, "Seseorang dengan kamera Canon tidak akan merugikanku" atau "Seseorang yang sudah membolehkan saya ada hingga sekarang tidak akan merugikanku." Tidak. Ia mungkin saja menjadi takut sepenuhnya (paranoia) dan panik, tapi ia tidak. Aku akan datang dengan kameraku, dan burung itu akan melihat, sampai dia dapat menguatkan sayapnya untuk terbang dan melesat terbang. Kemudian giliran burung berikutnya, dan dia bahkan lebih kecil. Dia duduk di cabang dan tidak akan pergi. Membutuhkan waktu lebih lama baginya untuk membuat sayap-sayapnya melentur. Kemudian pada suatu hari, dia pergi, juga. Hal yang sama: Ketakutan mutlak atau percaya? Keduanya memilih untuk percaya.

Apa yang kamu pilih dalam hidup kamu? Takut atau percaya?


Kamu bisa beralasan dan menemukan takut. Tapi dengan pengertian, kamu memahami ada begitu banyak keindahan lebih daripada yang aku bisa pernah selami, begitu banyak keheningan lebih daripada aku bisa pernah pahami. Bahwa kehidupan ini adalah karunia paling manis yang aku akan pernah miliki, karunia yang paling berharga, diberikan paling banyak secara bebas/gratis. Mobil atau rumah bisa diganti, tapi nafas tidak pernah bisa diganti. Dan semua yang harus aku lakukan adalah menerimanya.

Orang menciptakan skenario mereka. "Oh, Aku sangat sibuk. Harus melakukan ini; harus melakukan itu." Apalah dayaku? Belajarlah dalam hidupku bagaimana cara menghargai. Dan penghargaanku perlu dimulai dengan satu hal tunggal—bernafas—untuk paham alangkah berharganya itu. Satu kehidupan. Amatlah kritikal bahwa kamu jelas, teguh. Seperti berlibur itu, tiada waktu yang seharusnya diboroskan.

Prem Rawat

©Yayasan Prem Rawat

26 Januari 2010

Taman Kehidupan

Ini adalah kiasan, tapi itu benar: ketika kita datang ke dunia ini, kita diberi benih, dan kesempatannya sesungguhnya adalah apa yang kita lakukan dengan benih ini. Apakah mereka?


Kita bisa memulai dengan barang yang sederhana sekali. Salah satu dari mereka bisa menjadi benih kemarahan. Ada benih keraguan dan benih kebingungan. Tapi ada juga benih kebaikan, benih cinta, benih pengertian. Benih apa saja yang kamu taburkan dalam kebunmu, dalam kebun kehidupan ini, akhirnya, inilah pohon yang dibawahnya kamu akan beristirahat. Betapa menenangkan itu akan menjadi tergantung langsung pada benih mana yang di kamu taburkan.

Ada pepohonan tertentu yang punya bunga yang cantik, tapi mereka menghasilkan getah yang tidak membiarkan rumput untuk tumbuh dibawahnya. Setiap benih punya kwalitas tertentu, sesuatu yang ia suguhkan. Tapi ketika ia ditabur, ketika ia tumbuh dan menjadi pohon, ia akan punya sifat istimewa sekali yang mungkin kamu suka ataupun tidak.


Aku tidak di sini untuk memberikan pernilaian atau mengatakan benih mana yang seharusnya sudah kamu tabur. Aku cuma menunjukkan beberapa sifat. Kamu mampu membuat keputusan itu sendiri. Kamu punya cukup inteligensi untuk memilih dari tempat keheningan apa yang akan paling bermanfaat bagimu. Makhluk manusia, diberi keadaan sehingga mereka bisa melihat dengan jelas, akan membuat keputusan yang benar.

Apakah yang telah kamu tanam? Kalau kamu ingin tahu apa yang telah kamu pelihara, buka saja jendela dan lihatlah ke dalam kebunmu. Kamu akan melihat semua pepohonan yang ada disana.


Kebanyakan dari kita sudah menabur benih kemarahan. Kelihatannya tidak ada keragu-raguan untuk pergi mendekatinya, tapi pada akhirnya yang kamu dapatkan — yang jatuh dari pohon ini—tidak kamu suka. Dan kamu berjanji pada dirimu sendiri kamu tak akan pernah mendekati pohon ini lagi. Tapi entah kamu lupa atau kamu terbiasa menjalani kehidupan ini secara tak sadar, tidak ada keragu-raguan untuk kembali ke pohon itu dan terkena getahnya. Itu menjijikkan, dan kadang-kadang getah ini amat parah sehingga dibutuhkan seumur hidup untuk membuangnya. Dua orang saling mengasihi, dan kemudian tiap-tiap orang secara bergantian mendatangani pohon kecil mereka dan terkena getahnya, dan setelah itu, “aku benci kamu. Aku berharap kamu tidak pernah diciptakan.”

Orang menanam benih keraguan: “Apa itu benar-benar akan terjadi?” Pohon keraguan datang. Itu juga menjijikkan, karena pohon ini punya debu yang keluar darinya dan menutupi semua tempat, dan ia mengambil apa yang bisa jadi cantik dan mengubahnya menjadi tak terharga. Dalam kehidupan, salah satu pelajaran terbesar untuk dipelajari adalah memberi setiap hari baru manfaat dari keraguan positip, “Mungkin hari ini adalah hariku. Mungkin hari ini apa yang akan dia katakan kepadaku akan menjadi berbeda.”

Bagaimana dengan pengertian? Benih itu mungkin belum pernah ditabur, tapi tidak masalah. Kapanpun kamu menaburkan benih ini, mereka akan bertunas, jadi itu tidak pernah terlambat. Tapi apakah pohon pengertian? Kita diajar untuk percaya—”lompatan keyakinan.” Itu bisa jadi sangat berbahaya, dan kamu tidak harus mengambilnya. Kamu bisa menggantikan itu dengan pengertian, pengertian apa makna hidup.

Kebanyakan orang berpikir, “aku tahu apa makna hidup.” Tapi hidup kamu dihubungkan dengan tugasmu, sesuatu yang terjadi di sekelilingmu. Itu bukan hidup kamu. Sesuatu ini ada karena aku ada, tapi mereka bukan eksistensiku. Mereka akan berubah; mereka mungkin muncul dan menghilang, tapi aku akan ada. Di pusatnya adalah hidup kamu, pengertianmu, langkah-langkahmu, perjalananmu, kegembiraanmu, pengisian hatimu, dan proses pemenuhan total sepenuhnya.

Apakah itu untuk terpuaskan? Itu adalah perasaan yang berasal dari dalam dirimu, bagian inti dasar kamu. Seseorang bertanya kepada kamu, “Apakah kamu terpuaskan?” Kamu bisa berkata, “Ya, aku punya pekerjaan bagus, keluarga baik, mobil bagus, teman-teman hebat, dan bahkan binatang piaraanku mendengarkan saya, jadi aku pasti puas.” Tapi apakah kamu terpuaskan? Apakah kamu menaburkan benih pemenuhan?

Datang dan lihatlah pepohonan macam apa yang berada pada kebunmu. Apakah kamu menaburkan biji pengertian? Kita memelihara ketidaksadaran dan kemudian heran apa yang terjadi pada kita dalam kehidupan kita. Itu tak mungkin. Lihatlah kembali pada benih-benih itu yang kamu sudah diberi dan buatlah beberapa keputusan sederhana, terutama kalau kamu melihat dalam halamanmu dan menemukan beberapa pepohonan yang kamu kira seharusnya ada tapi tidak ada. Tidak apa-apa. Benihnya ada di tangan, taburkanlah mereka. Peliharalah mereka.

Peliharalah kebaikan dalam hidup kamu dan kamu akan dibalas dengan karunia kebaikan. Taburkanlah benih cinta dan kamu akan dibalas dengan perasaan cinta paling luar biasa yang menari di dalam hatimu. Taburkanlah benih pengertian dan kamu akan dibalas dengan pengertian. Taburkanlah biji keheningan dan kamu akan dibalas dengan keheningan.


Kenapa kamu seharusnya melakukan itu? Untuk merasa kebaikan. Untuk merasakan cinta sejati itu. Untuk merasakan pengertian sejati itu. Untuk paham seperti apa rsanya tidak berada dalam keraguan. Untuk paham bahwa ada tempat dimana ada jawaban—tidak untuk orang lain, tapi bagimu.

Maharaji



©Prem Rawat Fondasi

19 Januari 2010

Satu Sumber Tunggal

Pohon banyak memperhitungkan hujan badai, angin, dan matahari. Ada tanaman di Antarctica yang tumbuh dekat sekali dengan permukaan karena mereka tahu tentang angin. Mereka tahu bahwa kalau mereka membesarkan, mereka akan binasa, jadi mereka tumbuh sangat, sangat dekat sekali dengan permukaan, tapi hubungan mereka dengan matahari tetaplah konstan.



Saya ingin bicara tentang karunia hidup ini yang Anda punya sebagai seorang manusia. Apakah manusia itu? Apa yang membuat kita sangat berbeda? Pada satu tingkat, tak banyak beda antara kita dengan hewan yang lain. Mungkin perbedaannya tidak lebih besar daripada beda kucing dan anjing, tapi kita berbeda.

Apakah perbedaan itu? Ada hewan diluar sana yang bisa berlari lebih cepat dari kita, jadi itu bukan pada berlari. Dan ada hewan diluar sana yang bisa melompat melebihi kita, jadi itu bukan pada melompat. Bukan pula senyuman, karena monyet tersenyum cukup sering untuk memamerkan gigi mereka dan membuat semua yang lain tahu merekalah majikannya. Jadi itu bukan pada senyuman.

Apakah itu? Ini bukan berdasarkan ilmu pengetahuan, tapi kecenderungan Saya adalah bahwa merupakan kemampuan kita untuk menghargai, untuk menikmati, yang membuat kita menjadi siapa kita adanya. Anjing-anjing menikmati apa yang mereka menikmati. Ada tidak pertanyaan tentang itu. Mereka mengibas-ibaskan ekor mereka, dan mata mereka menyorot. Mereka bahkan juga punya senyuman. Mereka menikmati apa yang mereka nikmati. Kucing juga sama. Mereka menikmati apa yang mereka nikmati. Dan burung-burung menikmati apa yang mereka nikmati.

Tapi ada sesuatu yang kita bisa nikmati karena siapa kita adanya. Dan itu, menurut Saya, adalah apa yang membuat kita sedikit berbeda.

Sekarang lihatlah sejenak pada tanaman. Saya sedang mengemudi pada suatu hari, dan Saya perhatikan bahwa sekalipun tanahnya berombak-ombak, pepohonan tumbuh tegak, tidak tegak lurus dengan tanah. Kenapa? Karena akar-akar mereka berada dalam bumi ini, tapi hubungan mereka adalah dengan sesuatu yang berada di langit. Mereka perlu menyingkapkan dedaunan kepada matahari, dan semakin banyak semakin baik. Itulah hubungan mereka.

Pohon mengambil banyak hal untuk dipertimbangkan—hujan badai, angin, dan hubungan yang ia punya dengan matahari. Ada tanaman di Antarctica yang tumbuh dekat sekali dengan permukaan karena mereka tahu tentang angin. Mereka tahu bahwa kalau mereka mencoba untuk mengembang keluar, mereka akan binasa, jadi mereka tumbuh sangat, sangat dekat sekali dengan permukaan, tapi hubungan mereka dengan matahari tetaplah konstan.

Anda lihat banyak sekali rancangan—daun berbelit-belit, cabang, sistem akar, kulit kayu. Dan pohon punya hubungan dengan sesuatu yang sangat jauh darinya. Pohon tidak tahu seberapa jauh matahari. Tapi semua dalam rancangannya, dalam eksistensinya—sebagaimana kita menyebutnya—berada pada keseimbangan. Kalau keseimbangan itu dibahayakan, ia tidak dapat mewujud.

Kalau kita harus memandang pada eksistensi kita sendiri, seberapa seimbangkah itu? Kebanyakan dari kita berpikir, “Saya harus dapat bertahan di dunia ini, dan apapun yang dibutuhkan untuk tetap hidup adalah semua yang Saya perlukan. Titik. Habis perkara.”

Tapi dengan siapa kita punya hubungan asali itu? Apakah sumber tunggal dari inspirasi dalam kehidupan kita sehari-hari? Bagi Saya, itu tidak bisa berupa tokoh pahlawan. Itu tidak bisa berupa sesuatu yang Anda pelajari. Itu tidak bisa berupa sebuah ideologi atau penyair hebat atau seniman atau filsuf. Itu merupakan sesuatu yang berdiam dalam hati.

Faktanya adalah daya itu berada dalam semua orang—titik. Tapi pertanyaan satu-satunya adalah apakah kita mengenalinya, ataukah ia mewujud. Dan itu adalah apa yang Saya bicarakan di sini.

Saya tidak di sini untuk memperbaiki masalah-masalah Anda. Apa yang Saya mau Anda pahami adalah bahwa ada sesuatu yang nyata dalam diri Anda yang lebih besar daripada jumlah semua kebaikan dan keburukan Anda, tak peduli bagaimana Anda melihat diri Anda sendiri. Apapun yang telah Anda baca atau apapun yang Anda pikir, ada sesuatu yang berdiam dalam diri Anda. Dan itu adalah apa yang bisa menjadi titik tunggal inspirasi dalam hidup Anda.

Mudah-mudahan Anda akan menemukan dan menaruh perhatian pada hal itu yang ada dalam diri Anda dan bahwa Anda akan menempa hubungan dengannya. Karena kalau demikian Anda tidak akan cuma bertahan hidup, Anda akan berkembang pesat.

09 Oktober 2009

Selamat!

Selamat, anda hidup.


Selamat, anda hidup. Di sinilah anda. Dulu, anda tidak di sini. Dan suatu hari, anda tidak akan ada. Semua drama dan trauma anda, semua ide anda, semua hal yang anda suka dan tidak suka, semua hal yang terjadi yang anda nilai sebagai hidup anda tak lain adalah mimpi. Cuma mimpi. Mimpi tidak seharusnya dianggap enteng, tapi mereka adalah mimpi.

Ditengah-tengah semua mimpi ini, ada tempat dalam diri anda dimana anda bisa betul-betul melek. Dalam kesadaran itu, tidak ada penilaian. Tidak ada persoalan baik dan buruk, benar dan salah. Anda tidak dinilai. Tidak ada meteran dan tidak perlombaan. Tak seorangpun berdiri ada berkata, "Anda menang" atau "Anda kalah." Hanya realitas indah bahwa anda hidup.

Anda punya kecakapan untuk paham, mengetahui, mengagumi. Inilah sifat anda. Anda punya kecakapan untuk menjadi marah dan kecakapan menjadi tenang. Anda punya kecakapan menjadi terguncang dan kecakapan menjadi dalam damai. Yang mana yang paling banyak anda pakai? Frustrasi. Kemarahan. Kekecewaan.

Sekali dua kali, anda memang mendapati diri anda sendiri bahagia. Ketika anda begitu, itu merupakan hal yang begitu penting sehingga anda memikirkannya selama bertahun-tahun kemudian. Dan ketika anda semakin tua dan ingatan jangka pendek anda menghilang, anda akan berkata, "saya ingat ketika saya disana. Oh, waktu itu begitu indah."

Anda punya beberapa kwalitas yang lain: Anda dapat menghargai eksistensi ini. Anda bisa betul-betul bersukaria dalam cara abadi—tidak perlu kamera, tidak perlu keadaan istimewa. Anda bisa ada dalam kesenangan yang bersemi dari hati anda setiap hari.

Kebanyakan orang mencoba untuk memahami pikiran mereka. Orang-orang telah mencoba melakukannya sejak sangat lama. Dan mereka tidak akan pernah. Mereka menulis buku-buku dan mengatakan hal-hal indah, tapi itu seperti mempunyai kebun yang terlihat hebat meskipun setiap bunganya terbuat dari kertas dan setiap pohonnya adalah plastik. Rumputnya palsu, jadi anda tidak pernah harus memangkasnya.

Kerugiannya adalah bunganya tidak berkembang disana ada dan musim semi tidak pernah datang. Lebah tidak pernah beterbangan, tiada aroma harum bunga, dan pepohonan tidak digoyang angin. Sungguhpun itu semua terlihat cantik, itu statis—seperti mati.

Makanya amat penting memiliki pengalaman hidup. Yang hidup. Bernafas. Ada. Perasaan. Berpikir. Pengertian. Pengetahuan.


Makanya amat penting memiliki pengalaman hidup. Yang hidup. Bernafas. Ada. Perasaan. Berpikir. Pengertian. Pengetahuan. Itulah yang nyata. Seperti apa rupa kebun anda? Sudahkah anda mencium bunganya? Pernahkah anda melihat seekor lebah? Adakah burung-burung di pepohonan? Adakah musim ketika ia terlihat baik dan anda bersenang hati?

Orang terbiasa berada dalam frustrasi. Mereka terbiasa menjadi marah, susah. Katanya, "Itulah hidup. Waktu baik, waktu buruk—itu semua oke." Apa yang oke? Saya dalam keadaan tersesat? Saya mengabaikan sifat dasar saya? Saya dalam keadaan terjauhkan dari diri saya sendiri? Saya tidak mengenali diri saya sendiri?

Makanya setiap kita perlu sangat mati-matian untuk memahami bahwa tidak bisa ada kompromi, bahwa ikhtiar perlu dibuat setiap hari untuk melihat, untuk merasakan apa yang kita telah diberi—dari hati, dari dasar kita sebagai makhluk.

Ketahuilah bahwa waktunya akan datang ketika semua yang anda andalkan pelan-pelan akan berangsur menghilang. Apa yang akan tertinggal? Anda. Anda masih akan bisa mengalami, tapi erosi sedang terjadi. Itu terjadi sangat pelan-pelan anda tidak memperhatikannya, tapi itu sedang terjadi. Setiap hari, setiap detik, itu bergerak maju, tapi di atasnya terapung realitas indah yang abadi. Anda hidup. Dan sampai hari anda tidak lagi hidup, anda masih bisa pergi ke dalam dan merasakan kebahagiaan; anda bisa merasakan kesenangan.

Ada harapan. Hati anda mengetuk di pintu. Bukalah. Rasakan, lihatlah, pahami, sadarilah, ketahuilah. Beradalah dalam kesenangan itu, beradalah dalam perasaan itu setiap saat. Pahami indahnya kemungkinan untuk merasakan keheningan, untuk merasakan rasa syukur, menjadi berterima kasih bisa hidup. Saya di sini untuk mengingatkan anda: jangan menunggu. Bangunlah. Lihatlah, rasakan, kagumi, jadilah bagian dari eksistensi anda.

Prem Rawat

http://tprf.org• http://maharaji.net• http://contactinfo.net/

03 Oktober 2009

Pilihan Anda

Dengan memiliki damai dalam hidup anda, anda bisa menjadi katalisator bagi orang-orang lain, ini betul, tapi anda tidak bisa memberi mereka damai.


Seseorang memberitahu saya bahwa mereka ingin damai supaya mereka bisa memberikannya ke orang-orang lain. Tapi anda tidak bisa memberikan damai anda ke orang lain, sebagaimana anda tidak bisa memberi orang waktu anda. Anda tidak bisa memberi seseorang yang akan mati waktu sekalipun lima menit lagi.

Damai adalah sangat pribadi. Dengan memiliki damai dalam hidup anda, anda bisa menjadi katalisator bagi orang-orang lain, ini betul, tapi anda tidak bisa memberi mereka damai. Mereka harus menemukan dahaga mereka sendiri, pengertian mereka sendiri, dan menemukan damai itu di dalam. Kemungkinan itu selalu ada dalam hidup anda. Kalau anda punya kebijaksanaan, anda akan memanfaatkannya. Kadang-kadang orang berpikir kebijaksanaan adalah pencerahan. Mereka melihat lukisan tua seorang santo dengan cahaya di atas kepala mereka dan berpikir, “Oh, itu adalah orang yang mendapat pencerahan.” Tapi pencerahan sejati adalah ketika anda mengenali, dan kebijaksanaan adalah memutuskan memilih kesenangan yang itu ada dalam diri anda. Bukannya tentang mengetahui apa yang datang besok. Masalah-masalah datang dan pergi. Kalau anda punya problem, pada suatu waktu itu akan pergi tak ubahnya kala ia datang. Sesuatu akan berubah—anda akan berubah—tapi hasrat untuk kesenangan, untuk keheningan, akan tinggal dengan anda sepanjang hidup anda.

Rasa haus saya untuk keheningan, untuk kesenangan, belum berubah sejak saya sangat kecil. Yang lain-lainnya sudah berubah—kesukaan saya, ketidak-sukaan, apa yang saya makan, apa yang tidak saya makan. Semua sudah berubah, tapi dahaga itu belum berubah.


Pilihlah itu dalam hidup anda. Ini adalah pilihan yang harus dibuat setiap hari—untuk menikmati hidup anda. Anda harus datang sebagai orang merdeka, tidak dengan beban, tidak dalam ketakutan, karena itu tidak akan bekerja. Masalah-masalah masuk bentuk dan ukuran yang berbeda-beda. Kadang-kadang mereka mengubah penampilan mereka. Tapi apa yang kauinginkan dalam hidup anda? Ini adalah pilihan yang akan harus anda buat.

Orang-orang punya keragu-raguan. Saya tidak dapat berbuat apapun tentang itu karena ini adalah anda. Secara pribadi, bagi saya, keragu-raguan adalah membuang-buang waktu. Saya bisa menceritakan kepada anda kisah tentang keragu-raguan. Dulu ada seorang pria yang pergi ke pasar malam. Giginya benar-benar kotor—hampir hitam. Selagi dia berjalan-jalan, dia sampai di etalase dimana seorang dokter menjual obat seharga 15 sen. Dokter itu menunjukkannya pada orang-orang dan menawarkan kalau seseorang dari penonton dengan gigi yang sama sekali hitam, mereka bisa mencuci mulut mereka dengan obat, dan gigi mereka akan jadi bersih berkilauan.

Pria ini mau obat itu, tapi dia tidak bisa memutuskan. Mungkin terlalu mahal. Mungkin dia tidak benar-benar menginginkannya. Mungkin dia memang menginginkannya. Apa obatnya manjur? Dia berdiri disana berpikir, “Iya? Tidak? Iya? Tidak?” Dia ambil koin lima sen dan sepuluh sen, dan dia menggesek-gesekkan kedua koin itu berulang-ulang. “Iya? Tidak? Iya? Tidak?”

Akhirnya, semua botol terjual kecuali satu. Sehingga, pria itu mengambil koinnya, melemparnya ke dokter itu dan berkata, “Ini, Saya akan mengambilnya.” Dokter itu mengambil koinnya dan berkata, “Dengan apa?” Pria itu berkata, “Yaa, saya baru saja memberi anda 15 sen.” Dan dokter itu berkata, “Saya telah mengawasi anda berkata, ‘Ya? Tidak? Ya? Tidak?’ Dan dalam proses ini, anda telah samasekali mengauskan koin anda. Mereka tidak lagi berguna sekarang.”

Keragu-raguan adalah serupa dengan itu. Koin itu adalah waktu kita. “Ya? Tidak? Ya? Tidak?” Kalau anda siap membuat komitmen bahwa kesenangan adalah apa yang anda mau dalam hidup anda, anda akan disambut. Tidak pernah kasip, tapi jangan ragu-ragu, karena dalam keragu-raguan, anda memboroskan waktu anda. Ketika nafas ini memasuki anda—dan baru saja terjadi— tak seorangpun bisa berkata, “saya telah bernafas selama 60 tahun, jadi tak apa kalau saya tidak bernafas selama enam jam.” Tidak, itu tidak oke.

Tiap-tiap nafas diperlukan. Kesenangan setiap hari, damai, perlu diterima, dirasakan, dimengerti. Ini adalah tarian. Ini adalah simfoni kehidupan.

Prem Rawat

http://tprf.org• http://maharaji.net• http://contactinfo.net/

09 September 2009

Pertemanan Anda

“Kita seperti kain yang dicuci dengan sabun keheningan berulang sampai berkilauan. Anda perlu berkilauan, bersinar, karena itu adalah potensi anda.” kata Kabir.


Pada abad kelima belas orang suci dari India biasanya bicara tentang bagaimana semua pepohonan yang tumbuh di sekeliling pohon cendana memulai tercium seperti cendana. Mereka bukan cendana, tapi saat mereka tumbuh, mereka menyerap bau harum itu.

Kalau begitu mungkinkah jika saya berteman dengan sesuatu paling indah dalam hidup saya, saya akan mulai menyerap sifat-sifatnya? Ya. Itulah arti ibarat itu.

Kalau berteman dengan kebodohan, saya akan menyerap sifat kebodohan, tapi kalau saya berteman dengan keheningan, saya akan mulai menyerap kwalitas keheningan. Kalau saya mau punya bau harum pengertian, Saya perlu berteman dengan pengertian.

Kalau ini bahkan jauh dari mungkin, kemungkinan apa yang ada bagi saya dalam hidup ini! Kabir, orang suci lain yang hidup di abad kelima belas, berkata, “Kita seperti kain yang dicuci dengan sabun keheningan berulang sampai berkilauan. Anda perlu berkilauan, bersinar, karena itu adalah potensi anda.” Anda bukan cendana, dan tidak akan jadi cendana. Tapi dapatkah anda menyerap beberapa bau harum cendana yang semerbak wangi? Ya. Disanalah terletak harapan anda.

Saya dengar dari orang di sekeliling dunia. Banyak yang berada dalam situasi sulit. Beberapa berada di penjara, beberapa dengan hukuman seumur hidup. Pesan saya sampai ke mereka, dan itu luar biasa bersemangat, karena harapan apa yang bisa mereka punya? Sekalipun dalam situasi begitu dimana ada sedikit harapan, mereka mencari harapan. Mereka mencari kesenangan. Mereka mencari keheningan!

Kita jadi sibuk melakukan begitu banyak hal yang kita pikir penting. Tapi mendengarkan seorang manusia sebagai kamu adanya. Apakah kebutuhan paling sejati anda? Kebutuhan paling sejati anda adalah terpuaskan.

Kita melewati jalan-raya kehidupan sambil berkata, “saya perlu ini, saya perlu ini, saya perlu ini.” Sebagian adalah yang kita pikirkan, dan sebagian lagi dari yang orang lain beritahu kita, “Ini yang anda butuhkan, ini yang anda perlukan, ini yang anda perlukan.” Aku telah mendengar orang banyak membicarakan tentang donat Krispy Crème. Saya dengar bahwa toko roti itu punya lampu yang menyala ketika donat keluar dari oven dan bahwa orang-orang melambatkan jalannya saat melewati toko kalau-kalau cahaya akan menyala. Dan jika begitu, apapun yang mereka lakukan, orang akan berhenti untuk membeli donat dan memuaskan keinginan mereka akan sesuatu yang lezat.

Itu menggoda. Kadang terpikir oleh saya, “Hmm, mungkin saya sebaiknya mencoba donat Krispy Crème.” Kemudian saya sadar, “saya tidak mau.” Apakah itu penting? Tidak. Tapi semua dalam perjalanan hidup ini memang penting: apa yang jadi milik saya dan yang bukan milik saya; apa yang saya tahu dan apa yang saya percaya; rasa dahaga saya dan dahaga yang sudah dibebankan atas saya. Ini subyek besar. Cara kita bicara, cara kita berpikir, cara kita membayangkan sesuatu dipengaruhi secara langsung oleh masyarakat di sekeliling kita, bukan oleh kita.

Apakah dahaga hakiki kita? Siapa anda? Apakah anda cuma boneka, tersusun menurut konsep papier-mâché-satu lapis kertas di atas satu kertas dan kertas lainnya? Atau apakah anda sesuatu lebih dari sekedar itu? Moga-moga jawabannya adalah "Ya,” karena kalau jawabannya “Tidak,” kita sedang bermasalah.

Bertemanlah dengan yang benar, dan anda akan terwarnai dengan ciri mereka. Bertemanlah dengan cahaya, dan anda akan memulai berpijar.

Kabar baiknya adalah bahwa tiap-tiap kita punya dahaga. Tiap-tiap kita punya pencarian untuk terpenuhi, berada dalam damai. Boleh jadi anda tidak menyadarinya, tapi jauh di dalam anda tahu tentangnya.

Bertemanlah dengan yang benar, dan anda akan terwarnai dengan ciri mereka. Bertemanlah dengan cahaya, dan anda akan memulai berpijar. Inilah transformasi seorang manusia menjadi "manusia" sejati. Sederhana, sadar akan eksistensi.

Ada keindahan dalam diri anda yang anda bisa bersentuhan selama sisa hidup anda. Ia abadi. Tak berwaktu. Indah. Sederhana. Tak banyak yang seperti itu di dunia ini. Kalau anda ingin berteman dengan itu, saya bisa membantu.

Prem Rawat

http://tprf.org• http://maharaji.net• http://contactinfo.net/

27 Agustus 2009

Mengosongkan Wadah

...pemahaman bukan tentang argumen. Pemahaman adalah tentang apa yang anda telah mengerti, apa yang anda telah rasakan. Bukan tentang khotbah. Ia tentang menggapai dan menangkap jawaban dan menyadari, "Ya, sekarang saya paham." ...


Ketika saya menempuh perjalanan dan bicara ke orang, apakah tantangan saya? Memang, yang saya katakan harus berasal dari hati saya. Bukan pidato tertulis; Tidak dari buku. Tapi tantangan saya adalah bagi anda untuk mengosongkan wadah anda.

Ini bukan tentang mengatakan hal-hal bijaksana, percayalah. Orang berpikir saya akan menceritakan sesuatu yang akan menolong mereka. Dan ya, ternyata, karena orang menulis kembali dan berkata bagaimana mereka telah terbantu sejak mereka mendengarkan saya. Tapi bukan itu yang saya coba lakukan, karena saya tidak dapat mendorong kebijaksanaan ke dalam kepala seseorang. Yang saya coba lakukan adalah menolong orang untuk mengosongkan wadah mereka.

Keterbatasan kita yang paling besar adalah imajinasi kita. Saya belum pernah katakan ini sebelumnya karena saya tahu orang akan langsung berkata, "Tidak-tidak-tidak, kita bisa membayangkan beberapa hal yang tak patut!" Ya, anda bisa. Tapi ada sesuatu amat ajaib yang ada diluar daya anda untuk membayangkan. Saya menyebutnya damai dan kesenangan yang bersemayam di hati anda. Otak adalah sesuatu hal yang lucu. Ia berusaha terisi sebanyak yang ia bisa. Kalau kita lihat satu obyek yang kita belum pernah lihat sebelumnya, otak kita menjadi bingung sekali. Ia merespon, "Ini apa?" Imajinasi hanya bisa membawa anda sejauh itu. Tapi di kerajaan hati, di dunia keindahan batiniah ini, ada sesuatu yang sungguh bersifat ketuhanan, bukan karena buatan kita, tapi karena itulah sifat asalnya.

Saya tidak bicara tentang spekulasi/perkiraan. Anda perhatikan, Saya tidak akan menjawab pertanyaan anda. Apakah itu baik untuk anda? Pasti. Yang akan terus saya katakan adalah kosongkan wadah anda, dan jika anda lakukan, anda akhirnya akan memberi ruang bagi jawaban untuk datang. Karena anda tahu, jawabannya ada dalam diri anda. Apakah anda mempercayainya? Kita hidup di masyarakat dimana jika kita ingin tahu sesuatu, kita mencari di Internet untuk menemukannya. Tapi sudahkah anda temukan?

Dimanakah pemahaman di dunia ini? Orang lebih berpendidikan sekarang daripada yang sudah pernah ada. Semua orang punya argumen mereka kenapa sesuatu sebagaimana mereka adanya. Tapi pemahaman bukan tentang argumen. Pemahaman adalah tentang apa yang anda telah mengerti, apa yang anda telah rasakan. Bukan tentang khotbah. Ia tentang menggapai dan menangkap jawaban dan menyadari, "Ya, sekarang saya paham." Itulah yang saya inginkan untuk anda. Saya tidak mau anda berkata, "Sekarang saya telah diberi jawaban." Itu tak berarti. Saya mau anda bisa berkata, "Sekarang saya paham. Sekarang saya tahu." Begitulah cara yang perlu untuk terjadi—karena itu adalah seruan hati anda.

Ada kesempatan, kesempatan sederhana—kalau anda bisa melihatnya. Bagaimana anda dapat melihatnya? Kosongkan wadah anda. Bagaimana anda melakukannya? Itu mudah. Mulai saja membuang semua yang bukan milik anda, dan saya jamin wadahnya akan sangat-sangat kosong. Karena tiada satupun dalam wadah itu yang merupakan milik anda. Dalam hidup anda, anda diberitahu sesuatu dan anda berkata, "Oke." Setiap kali anda setuju, sesuatu ditempatkan dalam wadah itu, lagi dan lagi. Sayangnya, halnya sampai pada satu titik dimana tiada lagi ruang bagi yang lainnya. Ia penuh.

Apakah yang ada dalam wadah? Bagian dari semua hal yang berputar-putar di dunia ini. Orang berebut Tuhan. Negera-negera terpolarisasi/terkelompok-kelompok. Manusia saling melontarkan kemarahan hanya untuk membenarkan pendapat mereka. Kita telah menciptakan dunia mana, bukannya berkata, "Oke, kita tidak akan pernah bisa membayangkan Tuhan. Marilah kita hanya merasakan Tuhan, menghormati Tuhan, dan melantunkan Pujian bagi Tuhan." Tidak. Tidak mungkin sesederhana itu. "Ayo kita beri Tuhan jenis kelamin." Apa menurut anda Tuhan butuh kelamin? "Ayo kita beri Tuhan tangan." Apakah Tuhan perlu tangan? Daya itu, energi itu ada dimana-mana: tidak berasal dari manapun dan tidak pergi kemanapun. Apakah daya itu perlu kaki? Pikirkanlah hal itu.

Mungkin Saya telah menginspirasi anda untuk mengosongkan wadah anda. Atau barangkali saya sudah memberi anda ide paling tidak untuk melihat wadah anda dan lihatlah seberapa penuhnya. Lihatlah jika anda bisa mengenali hal-hal yang bukan milik anda. Anda tidak pernah meletakkannya disana. Mereka adalah suara orang-orang sebelum anda, yang mengatakan bagaimana harusnya. Dan anda berkata, "Oke."

Saya tidak berkata itu baik atau buruk. Saya berkata ini adalah wadah anda. Paling tidak, ia seharusnya berisi apa yang menurut anda harusnya ada disana. Karena hidup ini adalah tentang anda. Karunia hidup ini sudah diberikan pada anda. Jika anda menerima karunia ini, ia mengisi anda dengan kesenangan yang ajaib. Ia membawa kejelasan tiada bandingannya. Dan kemudian hidup anda terisi dengan rasa syukur, rasa syukur menjadi hidup. Bisakah anda memikirkan cerita yang lebih bagus? Bisakah anda memikirkan akhir hari yang lebih bagus? Bisakah anda memikirkan permulaan hari yang lebih bagus dibandingkan terisi rasa syukur? Inilah karunia pokok.

Prem Rawat

16 Agustus 2009

Jawaban Hati

Aku akan menceritakan kepadamu tentang buku terbaik yang pernah tertulis. Itu adalah buku pikiran yang kamu tulis untuk dirimu sendiri.


Kita menjalani kehidupan kita dan ada begitu banyak pernak-pernik. Kita punya hubungan, dan kita punya banyak pertimbangan. Kadang-kadang kelihatannya kita berjalan progresip. Kadang-kadang kelihatannya kita berjalan mundur. Suatu hari mudah, dan suatu hari sulit.

Memandang melalui jendela yang rumit ini, kelihatannya tidak ada sesuatupun yang bisa jadi sederhana. Tapi mundurlah dan hanya pandanglah pada kehidupan ini. Nafas datang. Ia tidak membuat pertimbangan. Kita tidak harus melakukan apapun untuk menerimanya. Tidak ada formulir untuk diisi, tidak perlu antre, tidak ada permainan menunggu. Kita tidak perlu log-on ke suatu dot-net atau dot-com untuk bernafas.

Kehidupan menari dan tergelar setiap hari dalam cara yang paling sederhana, paling tenang yang mungkin. Kamu ada, tidak melalui jalan besar dunia ini, tapi hanya sebagai kamu. Hanya kamu—wajah ini, senyum ini, badan ini, nafas ini, hati ini.

Banyak orang memusatkan perhatian pada semua masalah-masalah di dunia dan berkata kita harus menemukan solusi bagi semua masalah-masalah itu. Aku katakan bahwa kita punya pencarian. Itu bukan pencarian yang kamu atau aku mulai. Itu adalah pencarian yang sudah dimulai untuk kita. Itu adalah pencarian damai, pencarian cinta, pencarian pengertian, dan pencarian kesenangan.

Pencarian ini tidak untuk kesenangan yang ditemukan diluar. Itu adalah untuk kesenangan yang ditemukan di dalam. Pencarian ini tidak untuk damai diluar, tapi untuk damai yang terletak di dalam.

Kabar baiknya adalah bahwa apa yang kamu cari, kamu sudah miliki.

Siapa yang sudah memperkenalkan kita kepada kita? Kita selalu diperkenalkan kepada orang lain. Tak seorangpun bertanya, "Ngomong-ngomong, sudahkah kamu bertemu dirimu sendiri?" Pertemuan dengan dirimu sendiri adalah perbedaan antara keadaan bebas dan keadaan terperangkap. Kalau kamu tidak mau bertemu dirimu sendiri, kamu sedang terperangkap dengan dirimu sendiri. Hari kamu mau bertemu dengan dirimu sendiri, kamu menjadi bebas.

Aku akan menceritakan kepadamu tentang buku terbaik yang pernah tertulis. Itu adalah buku pikiran yang kamu tulis untuk dirimu sendiri. Ia jelas. Tidak perlu pendahuluan; tidak perlu kata pengantar. Tidak perlu catatan kaki. Itu adalah milikmu. Itu adalah sajak yang bersenandung keluar di hatimu dan membangkitkan kesenangan. Itu adalah sajak terbesar yang pernah ada—kesenangan. Dan itulah sajakmu, ungkapan bagi dirimu sendiri. Itu adalah karunia pokok.

Dunia ini berisi pertanyaan tanpa jawaban. Hati ini berisi jawaban tanpa pertanyaan. Kita dapat menerima jawaban itu, tidak jawaban yang dunia coba berikan pada kita.

Jawaban hati sangat, sangat berbeda, karena hati berkata, "Bangkitlah dan bersukacitalah. Bangkit dan hiduplah. Bangkitlah pada kemungkinan adanya pemenuhan."

Maharaji

02 Agustus 2009

Menemukan yang telah diberikan pada kita

Kita punya hidup. Itulah paspor terbesar. Nafas ini sedang melaju setiap saat.


Anda punya segalanya. Anda benar-benar memilikinya. Anda punya hidup ini. Mulailah dengan itu. Saya tahu sebagian orang bersikap sinis. Anda mungkin berpikir anda adalah kasus khusus yang sulit sekali. Banyak hal yang kita katakan pada diri kita adalah hasil pemberitahuan orang lain: “Jangan lakukan itu. Kalau anda lakukan, ini atau itu yang akan terjadi.” Jadi anda berpikir tu perkara rumit. Siapa yang memberitahu anda begitu? Tidakkah nafas datang ke anda? Tidakkah anda punya hati? Tidakkah anda hidup? Hanya menurut manfaat tiga hal ini saja, adanya anda bukan perkara sulit. Tiga hal itu menjadikan anda seorang manusia, sebagaimana saya, sebagaimana orang lain.

Lihatlah seekor semut. Seekor semut mestinya bersikap sinis. Pernahkah anda melihat seekor semut berusaha melewati rumput? Ia harus merangkak naik turun. Bahaya ada dimana-mana. Ia mestinya berhak bersikap sinis, tapi tidak begitu. Dengan kaki kecilnya, dia berjalan terus. Dan ia berjalan dan berjalan. Itu punya satu fokus dalam hidup.

Mulailah untuk melihat, untuk menghargai. Saya tidak berusaha mengatakan pada anda semuanya indah. Tapi lihat dan alamilah keindahan itu sendiri. Biarkan - berilah diri anda kesempatan untuk menerimanya dalam hidup anda.

Ibarat sebuah pintu, dan dibelakangnya, keajaiban luar biasa sudah dan sedang terjadi. Kita berkata, “Saya tidak tahu yang ada dibelakang pintu ini, karena itu, Saya tak akan membukanya.” Lalu kita melihat ke ruangan dimana kita berada dan tidak begitu hebat. Saya berkata, “Bukalah pintunya. Masuklah! Saya akan memberi anda kunci, tapi andalah yang harus membuka pintu itu.”

Ketika anda merasakan kesenangan, tidakkah anda mau berada disana selalu? Itu bukan harapan semata Sekedar harapan tidak akan bekerja. Sesuatu harus terjadi. Kita harus paham, “Disinilah dimana saya mau berada.” Dan kenalilah itu, tidak hanya berkata, “saya tidak mau merana.” Hanya berkata, “saya tidak mau merana” tidak otomatis menempatkan kita di satu tempat yang baik. Ini adalah hukum alam. Kalau saya berkata, “saya tidak mau berada di sini,” apa gunanya? Tapi kalau saya paham dimana saya ingin berada, maka itu akan menarik saya kesana.

Ada sebuah tempat dalam diri anda yang membawakan anda kesenangan. Anda harus mempercayai diri anda sebanyak saya mempercayai anda. Dan anda harus melihat kemungkinan dalam diri anda sendiri sebanyak saya melihat kemungkinan itu didalam anda. Mungkin untuk pertama kalinya katakan, “Saya tidak akan duduk disana sepanjang hidup saya sambil mengatakan tempat yang tidak saya ingini. Saya akan menjernihkan diri saya tentang tempat yang sebenarnya saya ingini.” Itulah saat ketika saya dapat membantu anda.

Kalau anda pergi ke loket tiket pesawat terbang dan berkata, “saya tak ingin berada di sini,” bagaimana mereka akan membantu anda? Saya ibarat maskapai penerbangan itu. Kalau anda berkata, “Bawalah saya ke tempat saya bisa berada dalam damai, dimana saya bisa berada dalam kesenangan,” maka saya bisa mengatakan kepada anda, “Silakan kesini. Tempat duduk mana yang anda suka?”

Kita punya hidup. Itulah paspor terbesar. Nafas ini sedang melaju setiap saat. Nafas tidak berandai-andai. Setiap saat ia datang. Sangat tepat. Lalu pergi, dan datang lagi. Ia tidak berandai-andai: “Saya sudah berada disana lama sekali. Anda akan baik-baik saja kalau saya tidak datang selama 45 menit.” Ia datang setiap saat, setiap detik.

Kita mendapat rahmat dalam kehidupan kita, begitu banyak keberkahan, begitu banyak cinta. Itu adalah masalah penyingkapan, menemukan semua yang telah diberikan.

Banyak orang terpesona oleh kesengsaraan dan benar-benar tidak bisa meninggalkannya. Mereka mengeluh tentang semua hal - tentang Tuhan, cuaca, semuanya. Kadang-kadang ada hujan badai atau panas. Itulah bagusnya berada di sini. Anda tidak bisa berkata, “Tolong, tanpa hujan badai. Tak pakai panas. Tolong, bukan ini atau itu.”

Kita harus jadi kuat di dunia ini. Menjadi selamat, sadar, tulen dalam hidup ini yang datang dari dalam. Saya tidak bisa memperbaiki sistem politik. Yang saya bisa lakukan adalah menolong orang-orang menyentuh hati mereka. Saya berkeliling dunia memberitahu orang-orang bahwa mereka bisa mendapat damai dalam hidup mereka. Saya mulai membantu orang-orang ketika saya sangat muda, dan inilah yang saya lakukan sepanjang hidup saya. Impiannya adalah untuk bisa pergi dari satu tempat ke tempat lainnya, ke desa-desa - dan itu sedang menjadi kenyataan.

Setiap hari adalah baru. Dan itu sangat bagus. Nikmatilah hidup anda, setiap saat. Begitulah mestinya. Jangan hilangkan perisai harapan. Belajarlah cara berpegang padanya. Anda menginginkan harapan itu.

Kesedihan akan selalu ada disana; kesedihan tidak pergi. Semua kesedihan yang anda akan pernah rasakan ada dalam diri anda. Dan semua cinta yang akan pernah anda rasakan ada dalam diri anda. Itu hanya tergantung pada pintu mana yang ingin anda buka.

Anda punya semuanya. Biarkan saya menolong anda menemukan semua hal itu lagi, cara berpegang pada perisai harapan. Dunia telah mendorongnya jauh. Tapi setiap hari kita bisa punya harapan. Kita bisa belajar tersenyum lagi. Kita tidak harus bersedih. Saya tidak bisa mengatakan pada semua orang bahwa bisnis mereka akan menjadi lebih baik. Tapi saya tahu satu hal: seorang dengan pikiran terpusat (centered person - ed.) adalah yang sedang dicari seluruh dunia, karena itulah yang kita semua perlukan. Jadi, nikmati saja perjalanannya.

30 Juli 2009

Surga Di Dalam

Anda adalah kaptennya. Ini adalah kehidupan anda. Nikmatilah setiap saatnya.


Setiap hari adalah penting. Apa yang akan anda lakukan hari ini? Banyak orang suka duduk di penghujung hari dan berkata, “Biar saya bayangkan apa yang telah saya lakukan hari ini.” Itu sudah sedikit terlambat.

Anda bangun di pagi hari dan berpikir, “Apa yang akan saya lakukan?” Mungkin ada sepuluh ribu hal yang harus anda lakukan, tapi ingatlah satu hal: hari ini Saya akan senang hati, Saya akan ada dalam damai, Saya akan ada dalam kesenangan. Dan kemudian lakukan apa saja yang harus anda lakukan - semua pekerjaan anda miliki, hal-hal sedih yang mungkin harus anda lakukan, juga hal-hal buruk yang harus anda tanggung. Tapi ingatlah satu hal: hari ini, Saya akan senang hati.

Anda melewati perjalanan anda dalam kehidupan, dan mudah-mudahan, anda keluar jadi lebih bijaksana - tidak kurang sesuatu, tapi dengan sesuatu. Begitulah kehidupan ini harusnya menjadi, karena ini adalah kehidupan anda. Kehidupan bukan tentang berkata kepada seseorang, “Lihat apa yang anda lakukan kepada saya.”

Anda adalah kaptennya. Ini adalah kehidupan anda. Nikmatilah setiap saatnya. Adalah kewajiban atas anda untuk memudahkan hal itu dan jangan pernah, sekalipun - apapun yang datang dalam kehidupan anda - untuk melupakannya. Anda adalah unik. Tak seorangpun pernah atau akan pernah bisa mengekspresikan kesenangan di hati ini seperti anda melakukannya. Masa-masa sulit anda akan berlalu, tapi sesuatu yang paling penting adalah anda fokus anda. Ketika seseorang berjalan di atas tali titian, melalui seluruh perjalanan dari awal sampai penghabisan, dimana fokus mereka? Apakah mereka berpikir, “Seberapa jauh harus saya jalani?” “Seberapa jauh telah saya jalani?” Tidak. Fokus mereka hanya pada satu tempat: keseimbangan mereka. Kalau mereka fokus goyah, mereka akan jatuh.

Dalam kehidupan kita, kita sedang berjalan diatas tali titian, juga. Setiap hari yang berlalu tak akan pernah kembali. Itu telah pergi. Itu membuat beberapa orang sedih. Dan beberapa orang berkata, “Kalau itu sebenarnya hakiki, maka setiap hari adalah penting.” Dan begitulah. Setiap hari penting.

Pemenuhan tidak ada urusannya dengan semua hal yang berlangsung sepanjang hari. Itu benar-benar tidak ada kaitannya. Kalau kejernihan tidak ada dan fokus tidak lurus, segala hal penting - sekalipun lampu merah. “Lihatlah ini, Saya selalu mendapat lampu merah. Tidak satupun lampu hijau.” Dan kalau kejernihan ada, itu adalah satu momen lain untuk mengingat sesuatu yang penting.

Kehidupan ini bukan tentang lampu-lampu merah dan lampu-lampu hijau atau hal-hal buruk yang terjadi. Tanpa memperhatikan semua keburukan itu, kalau ada lebih banyak hal-hal yang baik dalam kehidupan anda, maka itu adalah baik. Jadi, bagi anda, apa itu baik atau apa itu buruk? Ada satu hal yang merobohkan keseimbangan, dan itu adalah kejernihan anda. Kalau anda jernih, maka jumlah semua hal-hal yang baik bila dikumpulkan adalah lebih baik daripada jumlah semua hal-hal buruk. Dan baik begitulah.

Kelapa yang terapung di lautan tidak berkata, “Kok ada ombak?” Ia menggunakan apa yang ia sudah diberi. Jadi, biarkan ada ombak. Mungkin kelapa sampai pada titik dimana ia berkata, “semakin besar ombak, makin baik, karena itu berarti Saya akan dilempar jauh ke pedalaman.” Semuanya bertukar; semuanya berbalik. Beginilah kita dimaksudkan untuk menjadi.

Ada surga di dalam. Anda tidak perlu menghitung semua masalah. Katakan saja, “Ada semua hal itu, tapi ditengah-tengah itu semua, ada sesuatu yang begitu cantik, begitu hakiki.” Dan yang hakiki adalah lebih tulen daripada yang palsu sebagai palsu. Realitas adalah luar biasa.

Prem Rawat