21 Maret 2010

Sifat-dasar Kita


Kenapakah ketika anda senang hati, ketika anda bahagia, anda benar-benar menjadi baik hati? Anda memaafkan.


Apa yang saya bicarakan sangatlah sederhana karena ia tentang anda. Kebanyakan kita berpikir tentang diri kita sendiri, tentang apa yang sedang kita lakukan di sini, dalam cara yang paling sulit. Ide berlimpah-limpah. Tapi kalau anda bisa mulai paham sifat dasar anda-siapa anda-mungkin beberapa penyederhanaan bisa mulai terjadi.

Sesederhana ia adanya, sangatlah berharga untuk mengenali sifat dasar kita. Kenapakah ketika anda senang hati, ketika anda bahagia, anda benar-benar menjadi baik hati? Anda memaafkan. Kalau seseorang menyerobot di depan anda di jalan, itu tidak masalah. Ketika anda sedang tidak senang hati, ketika anda sedang frustrasi, kalau seseorang menyerobot di depan anda, anda menekan klakson anda.

Pemenuhan, damai, kesenangan, pemenuhan-ketika kita mempunyai itu, kita benar-benar bertindak dan bereaksi terhadap sesuatu dengan cara yang samasekali berlainan. Bagaimana kita berbicara, bagaimana kita bereaksi, bagaimana kita sebenarnya menanggung masalah-masalah samasekali berbeda. Anak datang dan berkata, “Ayah, Ibu, bisa saya minta uang? Saya mau membeli es krim.” “Tentu, dan sekalian saja, belikan saya satu, juga.” Pandangannya berbeda: Sesuatunya baik. Matahari bercahaya-meski di siang yang mendung. Makanan hangus di dapur? “Tidak masalah. Ayo kita pesan pizza dan bersenang-senang!”


Tapi ketika sesuatu di dalam tidak terpenuhi, tiada suatu hal kecilpun dapat ditoleransi.


Tapi ketika sesuatu di dalam tidak terpenuhi, tiada suatu hal kecilpun dapat ditoleransi. Kalau anda setuju meski sedikit saja dengannya, apa yang seharusnya anda coba kerjakan? Apa yang seharusnya anda coba lakukan dalam kehidupan anda? Kata kuncinya adalah mencoba-membuat beberapa usaha ke arah merasakan damai itu, pemenuhan itu.

Ide damai tidak bermula kemarin. Tujuan ini ditentukan sejak dahulu kala. Perabadan sangat bangga dengan apa yang telah mereka capai, tapi tujuan yang ditentukan sejak dahulu kala bagi seluruh kemanusiaan itu belum tercapai. Pergi ke bulan sudah tercapai. Tapi damai telah diabaikan.

Siapapun yang muncul dengan ide “perdamaian dunia,” melakukan perbuatan besar yang merugikan karena ia mengambil beban damai dari kita dan meletakkannya pada dunia- mitos yang disebut dunia ini. Damai adalah tanggung jawab dan harga bagi setiap orang manusia. Dan kedamaian individulah yang perlu dicari, diakui, dan dicapai dalam kehidupan ini. Inilah apa yang harus terjadi.

Di mana pemenuhan itu? Ia ada dalam diri anda. Apa yang anda cari ada dalam diri anda. Orang-orang menghabiskan ribuan dolar mencoba menukar tabiat mereka, dan padahal itu sangat mudah. Bersenang hatilah dan tabiat anda secara otomatis bertukar. Pandangan? Positip.

Anda tidak dibuat dengan sebuah alat pemotong kue. Tapi seseorang, sesuatu, menciptakan semua orang-orang ini, dan tak ada dua orangpun yang mirip. Bahkan tidak juga anak kembar. Itu adalah amat pribadi-untuk membuat setiap satu makhluk dengan begitu banyak ketelitian. Setiap hari mendapatkan nafas itu datang-itu adalah sejumlah bagian kecil-kecil yang menakjubkan. Setiap hari, mendapatkan hati menyanyikan lagu yang tidak pernah sama-dan selalu sama.

Bagaimana anda mulai berterima kasih? Bagaimana anda mulai merasakan keajaiban dalam kehidupan anda itu?


Bagaimana anda mulai berterima kasih? Bagaimana anda mulai merasakan keajaiban dalam kehidupan anda itu? Bagaimana anda mulai merayakan jenis keindahan itu? Jawabannya: Lihatlah ke dalam. Dengarkan. Dengarkan keinginan anda tanpa takut. Dengarkan alangkah manis itu, alangkah lembutnya ia, alangkah gagah dan gigihnya ia.

Ada hanya satu kehidupan-banyak hari, tapi satu kehidupan. Dari dasar hati anda, nikmati setiap satu harinya. Itu adalah hal yang tak paling ternilai. Setiap nafas yang masuk kepada anda-anda tidak bisa membelinya, anda tidak bisa menukarnya, anda tidak bisa memberikannya. Itu adalah milik anda.


Prem Rawat Foundation

17 Maret 2010

Pantulan Damai


Ketika hati penuh, ketika manusia penuh, kemudian secara otomatis, orang tidak berada dalam dualitas, tidak dalam pertanyaan, tapi dalam jawaban.


Semua orang ingin damai, kemana saja anda pergi. Tidak lama berselang, saya berbicara ke beberapa tawanan, “Apakah anda ingin damai?” “Tentu saja!” Anda bisa berbicara ke orang-orang di dinas Tentara, “Apakah anda ingin damai?” “Ya, tentu saja!” Jadi semua orang ingin damai. Dan kemudian, anda bertanya, “Apakah damai?” Dan di sini, anda menerima jawaban yang mengagetkan. Semua orang punya versi damai mereka sendiri dan semua orang melihatnya dari sudut yang samasekali berbeda.

Di hari yang lain, saya berbicara ke keponakan saya, dan katanya, “Oh, saya cinta warna itu.” Saya berkata, “Anda cinta warna itu? Atau anda suka warna itu?” Katanya, “Apa bedanya?” Saya berkata, “Ada perbedaan yang sangat besar. ‘Suka’ adalah sebenarnya apa yang ingin anda katakan, dan anda bisa memberi tekanan bahwa, ‘saya sangat menyukainya,’ tapi cinta sedikit lebih interaktif daripada yang warna bisa sediakan bagi anda.”

Dan dalam cara yang sama, ketika hening, orang-orang berkata, “Oh, suasanya begitu damai.” Semua yang ada, adalah hening. Orang-orang berpikir ketiadaan perang adalah damai. Mereka punya ide damai mereka. Ada orang-orang yang berpikir damai adalah ketika semua orang berjalan dengan sangat pelan, memakai jubah panjang dengan bunga-bunga pada rambut mereka, dan semua orang disapa dengan lambang damai. Anda tidak berjabat tangan lagi. Barangkali anda hanya menyentuhkan dua jari dan berkata, “Damai.” Yaa, tiada batas untuk itu kan?

Biar saya ceritakan kepada anda sebuah kisah. Dulu ada seorang ratu, dan dia punya kalung yang sangat indah. Pada suatu hari, setelah mandi, dia berada di balkon sedang mengeringkan rambutnya. Dia melepaskan kalungnya dan meletakkannya pada sebuah gantungan. Seekor burung gagak terbang berlalu, melihat kalung bercahaya yang terkena sinar matahari, dan membawanya terbang bersamanya. Tapi burung gagak menjatuhkannya pada sebuah pohon, dan ia terkait pada salah satu cabang.

Dibawah pohon itu ada sungai yang kotor dan bau. Sekarang, ketika sang ratu menjangkau kalungnya dan mendapatinya hilang, dia menjadi sangat marah. “Siapa yang mencurinya?” Dia menyuruh semua orang mencarinya. Tak seorangpun bisa menemukannya. Dia berkata pada raja, “Kalau saya tidak menemukan kalung saya, Saya tidak akan pernah makan lagi.” Si Raja sangat gelisah dan mengirim semua tentaranya dan orang-orang untuk mencarinya—tapi tak seorangpun bisa menemukannya. Jadi si raja akhirnya membuat pengumuman. “Siapapun yang temukan kalung akan mendapat setengah dari kerajaan saya.” Maka orang-orang mulai mencari dengan serius.

Pada suatu hari, seorang jendral berjalan melewati pohon dan melihat kalung itu dalam sungai dibawahnya. Dia langsung terjun ke dalam sungai yang berisi kotoran karena dia menginginkan setengah kerajaan. Seorang Menteri melihat si jendral melompat dalam sungai, dan dia, juga, melihat kalung itu, dan ikut melompat ke dalam. Raja melihat jendral dan menterinya mencari kalung itu, juga melompat ke dalam, dan sekarang mereka bertiga mencari-carinya dalam air. Tak lama kemudian, semakin banyak tentara dan penduduk desa berdatangan, dan mereka semua melompat ke dalam.

Akhirnya, seorang dengan sedikit kebijaksanaan berkata, “Apa yang sedang kalian lakukan? Kalung itu tidak di bawah sana; ia ada di atas sana. Kalian melompat mengejar bayangan.” Maka si raja berkata, “Karena anda yang menemukannya, setengah dari kerajaan adalah milik anda.” Dan manusia bijaksana itu berkata, “saya tidak perlu kerajaan anda. Anda jaga saja.”

Kenapa saya ceritakan kisah ini? Karena itulah apa yang juga kita melakukan. Kita hanya melihat pantulan damai. Itu baik ketika tidak ada perang, tapi itu adalah pantulan damai—itu bukanlah damai itu sendirinya. Damai bermula dengan setiap orang manusia di muka bumi ini. Itulah kalungnya. Semua yang lain adalah sebuah pantulan.

Juga dalam situasi yang paling putus asa, ada harapan. Ini adalah siapa kita adanya. Ada kegembiraan, ada pengertian, ada kekuatan bagi setiap orang manusia. Dan itu adalah kekuatan untuk bergerak maju menuju pintu gerbang kedamaian batin.



Ketika hati penuh, ketika manusia penuh, kemudian secara otomatis, orang tidak berada dalam dualitas, tidak dalam pertanyaan, tapi dalam jawaban. Tidak rumit, tapi sederhana—itulah kita adanya. Ini adalah apa yang kita inginkan; ini adalah siapa kita perlu untuk menjadi. Ini adalah sifat-dasar kita. Ketika kita berada dalam keseimbangan itu dimana hati kita penuh, sifat-dasar kita yang sejati bercahaya. Dan sifat-dasar sejati yang kita miliki adalah indah. Ia adalah sejati. Dan itu adalah tempat dari damai sejati. Kita mencarinya begitu jauh padahal ia ada sangat dekat dengan kita.

Juga dalam situasi yang paling putus asa, ada harapan. Ini adalah siapa kita adanya. Ada kegembiraan, ada pengertian, ada kekuatan bagi setiap orang manusia. Dan itu adalah kekuatan untuk bergerak maju menuju pintu gerbang kedamaian batin.

@ Prem Rawat Foundation