26 Januari 2010

Taman Kehidupan

Ini adalah kiasan, tapi itu benar: ketika kita datang ke dunia ini, kita diberi benih, dan kesempatannya sesungguhnya adalah apa yang kita lakukan dengan benih ini. Apakah mereka?


Kita bisa memulai dengan barang yang sederhana sekali. Salah satu dari mereka bisa menjadi benih kemarahan. Ada benih keraguan dan benih kebingungan. Tapi ada juga benih kebaikan, benih cinta, benih pengertian. Benih apa saja yang kamu taburkan dalam kebunmu, dalam kebun kehidupan ini, akhirnya, inilah pohon yang dibawahnya kamu akan beristirahat. Betapa menenangkan itu akan menjadi tergantung langsung pada benih mana yang di kamu taburkan.

Ada pepohonan tertentu yang punya bunga yang cantik, tapi mereka menghasilkan getah yang tidak membiarkan rumput untuk tumbuh dibawahnya. Setiap benih punya kwalitas tertentu, sesuatu yang ia suguhkan. Tapi ketika ia ditabur, ketika ia tumbuh dan menjadi pohon, ia akan punya sifat istimewa sekali yang mungkin kamu suka ataupun tidak.


Aku tidak di sini untuk memberikan pernilaian atau mengatakan benih mana yang seharusnya sudah kamu tabur. Aku cuma menunjukkan beberapa sifat. Kamu mampu membuat keputusan itu sendiri. Kamu punya cukup inteligensi untuk memilih dari tempat keheningan apa yang akan paling bermanfaat bagimu. Makhluk manusia, diberi keadaan sehingga mereka bisa melihat dengan jelas, akan membuat keputusan yang benar.

Apakah yang telah kamu tanam? Kalau kamu ingin tahu apa yang telah kamu pelihara, buka saja jendela dan lihatlah ke dalam kebunmu. Kamu akan melihat semua pepohonan yang ada disana.


Kebanyakan dari kita sudah menabur benih kemarahan. Kelihatannya tidak ada keragu-raguan untuk pergi mendekatinya, tapi pada akhirnya yang kamu dapatkan — yang jatuh dari pohon ini—tidak kamu suka. Dan kamu berjanji pada dirimu sendiri kamu tak akan pernah mendekati pohon ini lagi. Tapi entah kamu lupa atau kamu terbiasa menjalani kehidupan ini secara tak sadar, tidak ada keragu-raguan untuk kembali ke pohon itu dan terkena getahnya. Itu menjijikkan, dan kadang-kadang getah ini amat parah sehingga dibutuhkan seumur hidup untuk membuangnya. Dua orang saling mengasihi, dan kemudian tiap-tiap orang secara bergantian mendatangani pohon kecil mereka dan terkena getahnya, dan setelah itu, “aku benci kamu. Aku berharap kamu tidak pernah diciptakan.”

Orang menanam benih keraguan: “Apa itu benar-benar akan terjadi?” Pohon keraguan datang. Itu juga menjijikkan, karena pohon ini punya debu yang keluar darinya dan menutupi semua tempat, dan ia mengambil apa yang bisa jadi cantik dan mengubahnya menjadi tak terharga. Dalam kehidupan, salah satu pelajaran terbesar untuk dipelajari adalah memberi setiap hari baru manfaat dari keraguan positip, “Mungkin hari ini adalah hariku. Mungkin hari ini apa yang akan dia katakan kepadaku akan menjadi berbeda.”

Bagaimana dengan pengertian? Benih itu mungkin belum pernah ditabur, tapi tidak masalah. Kapanpun kamu menaburkan benih ini, mereka akan bertunas, jadi itu tidak pernah terlambat. Tapi apakah pohon pengertian? Kita diajar untuk percaya—”lompatan keyakinan.” Itu bisa jadi sangat berbahaya, dan kamu tidak harus mengambilnya. Kamu bisa menggantikan itu dengan pengertian, pengertian apa makna hidup.

Kebanyakan orang berpikir, “aku tahu apa makna hidup.” Tapi hidup kamu dihubungkan dengan tugasmu, sesuatu yang terjadi di sekelilingmu. Itu bukan hidup kamu. Sesuatu ini ada karena aku ada, tapi mereka bukan eksistensiku. Mereka akan berubah; mereka mungkin muncul dan menghilang, tapi aku akan ada. Di pusatnya adalah hidup kamu, pengertianmu, langkah-langkahmu, perjalananmu, kegembiraanmu, pengisian hatimu, dan proses pemenuhan total sepenuhnya.

Apakah itu untuk terpuaskan? Itu adalah perasaan yang berasal dari dalam dirimu, bagian inti dasar kamu. Seseorang bertanya kepada kamu, “Apakah kamu terpuaskan?” Kamu bisa berkata, “Ya, aku punya pekerjaan bagus, keluarga baik, mobil bagus, teman-teman hebat, dan bahkan binatang piaraanku mendengarkan saya, jadi aku pasti puas.” Tapi apakah kamu terpuaskan? Apakah kamu menaburkan benih pemenuhan?

Datang dan lihatlah pepohonan macam apa yang berada pada kebunmu. Apakah kamu menaburkan biji pengertian? Kita memelihara ketidaksadaran dan kemudian heran apa yang terjadi pada kita dalam kehidupan kita. Itu tak mungkin. Lihatlah kembali pada benih-benih itu yang kamu sudah diberi dan buatlah beberapa keputusan sederhana, terutama kalau kamu melihat dalam halamanmu dan menemukan beberapa pepohonan yang kamu kira seharusnya ada tapi tidak ada. Tidak apa-apa. Benihnya ada di tangan, taburkanlah mereka. Peliharalah mereka.

Peliharalah kebaikan dalam hidup kamu dan kamu akan dibalas dengan karunia kebaikan. Taburkanlah benih cinta dan kamu akan dibalas dengan perasaan cinta paling luar biasa yang menari di dalam hatimu. Taburkanlah benih pengertian dan kamu akan dibalas dengan pengertian. Taburkanlah biji keheningan dan kamu akan dibalas dengan keheningan.


Kenapa kamu seharusnya melakukan itu? Untuk merasa kebaikan. Untuk merasakan cinta sejati itu. Untuk merasakan pengertian sejati itu. Untuk paham seperti apa rsanya tidak berada dalam keraguan. Untuk paham bahwa ada tempat dimana ada jawaban—tidak untuk orang lain, tapi bagimu.

Maharaji



©Prem Rawat Fondasi

19 Januari 2010

Satu Sumber Tunggal

Pohon banyak memperhitungkan hujan badai, angin, dan matahari. Ada tanaman di Antarctica yang tumbuh dekat sekali dengan permukaan karena mereka tahu tentang angin. Mereka tahu bahwa kalau mereka membesarkan, mereka akan binasa, jadi mereka tumbuh sangat, sangat dekat sekali dengan permukaan, tapi hubungan mereka dengan matahari tetaplah konstan.



Saya ingin bicara tentang karunia hidup ini yang Anda punya sebagai seorang manusia. Apakah manusia itu? Apa yang membuat kita sangat berbeda? Pada satu tingkat, tak banyak beda antara kita dengan hewan yang lain. Mungkin perbedaannya tidak lebih besar daripada beda kucing dan anjing, tapi kita berbeda.

Apakah perbedaan itu? Ada hewan diluar sana yang bisa berlari lebih cepat dari kita, jadi itu bukan pada berlari. Dan ada hewan diluar sana yang bisa melompat melebihi kita, jadi itu bukan pada melompat. Bukan pula senyuman, karena monyet tersenyum cukup sering untuk memamerkan gigi mereka dan membuat semua yang lain tahu merekalah majikannya. Jadi itu bukan pada senyuman.

Apakah itu? Ini bukan berdasarkan ilmu pengetahuan, tapi kecenderungan Saya adalah bahwa merupakan kemampuan kita untuk menghargai, untuk menikmati, yang membuat kita menjadi siapa kita adanya. Anjing-anjing menikmati apa yang mereka menikmati. Ada tidak pertanyaan tentang itu. Mereka mengibas-ibaskan ekor mereka, dan mata mereka menyorot. Mereka bahkan juga punya senyuman. Mereka menikmati apa yang mereka nikmati. Kucing juga sama. Mereka menikmati apa yang mereka nikmati. Dan burung-burung menikmati apa yang mereka nikmati.

Tapi ada sesuatu yang kita bisa nikmati karena siapa kita adanya. Dan itu, menurut Saya, adalah apa yang membuat kita sedikit berbeda.

Sekarang lihatlah sejenak pada tanaman. Saya sedang mengemudi pada suatu hari, dan Saya perhatikan bahwa sekalipun tanahnya berombak-ombak, pepohonan tumbuh tegak, tidak tegak lurus dengan tanah. Kenapa? Karena akar-akar mereka berada dalam bumi ini, tapi hubungan mereka adalah dengan sesuatu yang berada di langit. Mereka perlu menyingkapkan dedaunan kepada matahari, dan semakin banyak semakin baik. Itulah hubungan mereka.

Pohon mengambil banyak hal untuk dipertimbangkan—hujan badai, angin, dan hubungan yang ia punya dengan matahari. Ada tanaman di Antarctica yang tumbuh dekat sekali dengan permukaan karena mereka tahu tentang angin. Mereka tahu bahwa kalau mereka mencoba untuk mengembang keluar, mereka akan binasa, jadi mereka tumbuh sangat, sangat dekat sekali dengan permukaan, tapi hubungan mereka dengan matahari tetaplah konstan.

Anda lihat banyak sekali rancangan—daun berbelit-belit, cabang, sistem akar, kulit kayu. Dan pohon punya hubungan dengan sesuatu yang sangat jauh darinya. Pohon tidak tahu seberapa jauh matahari. Tapi semua dalam rancangannya, dalam eksistensinya—sebagaimana kita menyebutnya—berada pada keseimbangan. Kalau keseimbangan itu dibahayakan, ia tidak dapat mewujud.

Kalau kita harus memandang pada eksistensi kita sendiri, seberapa seimbangkah itu? Kebanyakan dari kita berpikir, “Saya harus dapat bertahan di dunia ini, dan apapun yang dibutuhkan untuk tetap hidup adalah semua yang Saya perlukan. Titik. Habis perkara.”

Tapi dengan siapa kita punya hubungan asali itu? Apakah sumber tunggal dari inspirasi dalam kehidupan kita sehari-hari? Bagi Saya, itu tidak bisa berupa tokoh pahlawan. Itu tidak bisa berupa sesuatu yang Anda pelajari. Itu tidak bisa berupa sebuah ideologi atau penyair hebat atau seniman atau filsuf. Itu merupakan sesuatu yang berdiam dalam hati.

Faktanya adalah daya itu berada dalam semua orang—titik. Tapi pertanyaan satu-satunya adalah apakah kita mengenalinya, ataukah ia mewujud. Dan itu adalah apa yang Saya bicarakan di sini.

Saya tidak di sini untuk memperbaiki masalah-masalah Anda. Apa yang Saya mau Anda pahami adalah bahwa ada sesuatu yang nyata dalam diri Anda yang lebih besar daripada jumlah semua kebaikan dan keburukan Anda, tak peduli bagaimana Anda melihat diri Anda sendiri. Apapun yang telah Anda baca atau apapun yang Anda pikir, ada sesuatu yang berdiam dalam diri Anda. Dan itu adalah apa yang bisa menjadi titik tunggal inspirasi dalam hidup Anda.

Mudah-mudahan Anda akan menemukan dan menaruh perhatian pada hal itu yang ada dalam diri Anda dan bahwa Anda akan menempa hubungan dengannya. Karena kalau demikian Anda tidak akan cuma bertahan hidup, Anda akan berkembang pesat.