21 April 2010

Mangkok Yang Berkilauan

Aku ingin menceritakan sebuah cerita kecil yang benar-benar terjadi. Ketika aku berada di Pasific untuk tur, seseorang dari Sri Lanka, salah satu dari tempat-tempat yang rusak berat terkena tsunami, mengirimi saya sebuah mangkok. Dengan itu ada sebuah catatan menerangkan bahwa mangkok ini sudah ada di keluarga mereka, dan beberapa hari sebelum tsunami, mereka sudah memutuskan untuk membersihkannya. Mereka melakukannya, memolesnya, membuatnya benar-benar berkilauan.

Kemudian tsunami menimpa, dan semua yang mereka punya hancur, terseret ke laut. Keesokan harinya, mereka pergi untuk melihat kalau-kalau mereka bisa menemukan sesuatu, dan diantara semua sampah yang sudah terseret gelombang ada mangkok ini, bercahaya dibawah sinar matahari. Lautan entah bagaimana telah mengembalikan mangkok itu, dan ia ada di pasir, ditengah-tengah semua sampah—bercahaya.

Ini adalah kehidupanmu, eksistensimu. Berkilaulah dengan tanpa cela, karena kamu tidak pernah tahu kapan tsunami itu akan menimpa.


Kenapa cerita itu penting? Ini adalah kehidupanmu, eksistensimu. Berkilaulah dengan tanpa cela, karena kamu tidak pernah tahu kapan tsunami itu akan menimpa. Pertanyaannya bukan kalau-kalau ia akan menimpa—ia akan menimpa. Dan ketika ia menimpa, begitu banyak yang kita bangga-banggakan, begitu banyak yang telah kita punya stempel sebagai milik kita, begitu banyak yang kita pikir mestinya milik kita, menjadi lenyap. Itu seperti rumah yang terbuat dari kartu disusun diatas satu dengan lainnya. Itu sangat mudah roboh. Satu angin kecil akan meruntuhkannya.

Aku melihat pertentangan bahwa, ditengah-tengah kerusakan dan sampah, sebuah mangkok bercahaya—tidak menyembunyikan dirinya— tapi bercahaya. Dan ia bercahaya cemerlang karena seseorang menyediakan waktu untuk membersihkan dan memolesnya. Masing-masing kita adalah sebuah mangkok. Apakah mangkok ini bercahaya atau tidak? Apa ia ternodai oleh semua baik dan buruk, oleh semua ide, oleh daftar semua hal yang tidak ada dalam kehidupan kita? Kalau begitu, ambillah kain dan buatlah poleslah mangkok ini supaya ia bisa memantulkan kejernihan, karena itulah apa ia sebenarnya: kejernihan.

Apakah yang sudah kita cita-citakan untuk kita capai? Kita lebih tertarik dengan acara-acara kita daripada sesuatu yang akan menfasilitasi semua daftar panjang yang sudah kita buat—kehidupan. Tanpa kehidupan, tidak akan ada acara. Sesuatu yang kita pikir adalah lem dalam kehidupan nyatanya adalah tidak; mereka hanya nampaknya saja begitu. Tak peduli apa yang kamu lakukan—entah kamu berusaha menjadi cakap dalam bisnis, jadi ibu atau ayah yang baik, atau jadi kawan baik— apa yang pada dasarnya mendorong kamu, yang menginginkan kamu untuk berkembang?

Apa sesuatu yang paling penting bagimu sebagai seorang manusia? Sesuatu yang paling penting adalah datang dan perginya nafas ini. Itulah ia adanya. Tanpa nafas itu, bagimu tidak akan ada apapun. “Habis perkara?” Ya begitulah adanya, karena dalam nafas itu terletak kebenaranku, kebijaksanaanku. Itu adalah jamku, itu adalah ritmeku, itu adalah laguku, itu adalah tabuhan genderangku yang aku perlu menari mengikuti iramanya.

Apa sesuatu yang paling penting bagimu sebagai seorang manusia? Sesuatu yang paling penting adalah datang dan perginya nafas ini. Itulah ia adanya. Tanpa nafas itu, bagimu tidak akan ada apapun.


Ini adalah semua yang aku telah diberi. Semua yang lain adalah seperti memegang balon udara. Sekali kamu lepaskan, mereka akan pergi. Jauh dan jauh dan jauh. Biarkan saya mengagumi apa yang aku telah diberi. Biarkan saya membersihkan mangkokku sehingga ia akan bersinar dan bahkan tsunami-pun tidak bisa mengambilnya.

Biarkan kehidupanmu jadi seperti itu. Biarkan ia berkilauan. Itulah kemungkinannya. Damai adalah kemungkinan. Kesenangan adalah kemungkinan. Kepuasan adalah kemungkinan. Terimalah itu dalam kehidupanmu. Pahamilah itu. Ini adalah untuk apa kita berada di sini.

Maharaji

@ Prem Rawat Foundation

Tidak ada komentar:

Posting Komentar