19 Februari 2010

Takut atau Percaya?

Dunia ini penuh dengan orang yang mencari penyelesaian tanpa mengenali apa masalahnya.


Itu adalah seperti kiasan dari rumah dengan kotoran di sekelilingnya. Setiap hari angin bertiup dan kotoran akhirnya ada di rumahmu. Tiap kali kamu melihat iklan tentang mesin penyedot kotoran atau kamu melihat penemuan baru untuk melenyapkan debu, kamu mendengarkan. Beginilah bagaimana kemajuan kehidupan orang—menunggu, mengharap bahwa seseorang akan muncul dengan alat penghisap debu yang lebih ringan berdaya lebih. Kamu mendengar, "Bawalah milikmu yang lama; kami akan memberimu diskon, dan kamu bisa membawa pulang yang baru, yang lebih baik." Tidak semua orang menanti perangkap tikus yang lebih bagus? Penyelesaian bagi masalah-masalah kita.

Dan seseorang berkata, "Kamu tidak perlu alat penghisap debu; kamu tidak perlu lap. Masalah kotoran ini bisa ditangani." "Tapi, bagaimana bisa?" Beberapa orang dengan sedikit kebijaksanaan berkata, "Oke. Katakan padaku." Penyelesaian? Tanamlah rumput.
Mungkin permukaannya dipasang ubin. Problemmu adalah debu, tapi itu dipertajam oleh kenyataan bahwa ada begitu banyak debu diluar dan ketika kamu membuka jendelamu, angin meniupnya ke dalam.

Apakah itu masuk akal? Tentu. Dalam hidup kamu, perhatikan. Penyelesaian apa yang sedang kamu cari? Apa yang sedang kamu coba pecahkan? Apa yang kamu sebagai seorang manusia—bukan sebagai orang tua, kerabata, karyawan, majikan—apa yang kauinginkan dalam hidup kamu?

Kalau satu hal yang telah kamu kenali terus berubah, kamu belum menemukan keinginan sejatimu. Karena keinginan yang paling sejati tidak berubah. Itu adalah sifat-dasarnya, keindahannya. Ia tidak termakan oleh apa yang terjadi di sekelilingmu—siapa yang datang dan pergi dalam hidup kamu. Ia tidak ada urusannya dengan itu.

Kamu hidup di dunia yang terus-menerus berubah. Kamu tinggal di rumah yang berubah setiap hari. Semua segel pintu memburuk sedikit demi sedikit. Tak peduli betapa kuat rumahmu, ia pelan-pelan ambrol. Bumi bergeser. Semua debu ini yang kamu sudah coba untuk lenyapkan berkumpul, memadat, dan membuat planet bumi ini, dan sekarang ia bergeser. Setiap hari manakala kamu terus menjalankan usahamu, inilah apa yang sedang terjadi. Dan di sini kamu adanya.

Bayangkan bahwa kamu berlibur seminggu, dan kau tahu liburan akan berakhir sejak kamu memulai. Kamu bisa berkata, "Oh, ini mengerikan. Ia akan berakhir." Apakah itu apa yang kamu lakukan—berkeluh-kesah? "Aku tidak berani bersenang-senang karena aku tahu ia akan berakhir." Tidak. Malah sebaliknya. Kamu mau punya waktu terbaik yang mungkin kamu bisa dalam hari-hari itu. Kamu tidak mau melalaikan sekejap, sejampun—kamu mau itu semua. Dan begitulah bagaimana hidup kamu seharus dijalani. Karena liburan ini disebut kehidupan yang akan berakhir. Takut bukanlah maksudnya. Begitu banyak orang terperangkap di dalamnya. Kehidupan ini tak dapat dijalani dalam ketakutan atau meratap. Kehidupan ini perlu dijalani dengan hasrat—akan pengertian, keheningan, perasaan terpenuhi setiap harinya.

Kita mencari penyelesaian ke masalah-masalah kita dalam konsep impian/utopia. Lakukan ini dan itu, dan pada akhirnya datanglah waktu yang sangat bagus ini dimana semuanya sempurna, aku punya realisasi total, semua yang aku lihat adalah keheningan, dan aku tahu semua.

Tidak ada impian/utopia seperti itu. Negari impianmu datang setiap hari, karena setiap hari bahwa kamu hidup adalah sempurna. Bukalah matamu dan lihatlah alangkah indah eksistensi, alangkah indah karunia ini. Kemungkinan.


Baru-baru ini, seekor burung kolibri membangun sarang kecil diluar kantorku, dan meletakkan dua telur kecil. Si ibu akan datang dan duduk, dan kemudian telur itu pecah. Aku memastikan tak seorangpun mengganggunya. Yang pertama keluar, duduk pada cabang, dan kemudian melenturkan sayap-sayapnya. Aku bisa untuk mengambil beberapa foto-foto cantik. Si ibu duduk pada cabang yang lain mengawasi. Kami membuat wadah madu supaya dia bisa mendapat makanan didekatnya, dan dia oke saja dengan itu.

Bayi burung ini harus punya keyakinan mutlak. Takut atau "tidak mengapa" adalah dua pilihan. Tidak logis, tiada pertimbangan. Bukannya, "Seseorang dengan kamera Canon tidak akan merugikanku" atau "Seseorang yang sudah membolehkan saya ada hingga sekarang tidak akan merugikanku." Tidak. Ia mungkin saja menjadi takut sepenuhnya (paranoia) dan panik, tapi ia tidak. Aku akan datang dengan kameraku, dan burung itu akan melihat, sampai dia dapat menguatkan sayapnya untuk terbang dan melesat terbang. Kemudian giliran burung berikutnya, dan dia bahkan lebih kecil. Dia duduk di cabang dan tidak akan pergi. Membutuhkan waktu lebih lama baginya untuk membuat sayap-sayapnya melentur. Kemudian pada suatu hari, dia pergi, juga. Hal yang sama: Ketakutan mutlak atau percaya? Keduanya memilih untuk percaya.

Apa yang kamu pilih dalam hidup kamu? Takut atau percaya?


Kamu bisa beralasan dan menemukan takut. Tapi dengan pengertian, kamu memahami ada begitu banyak keindahan lebih daripada yang aku bisa pernah selami, begitu banyak keheningan lebih daripada aku bisa pernah pahami. Bahwa kehidupan ini adalah karunia paling manis yang aku akan pernah miliki, karunia yang paling berharga, diberikan paling banyak secara bebas/gratis. Mobil atau rumah bisa diganti, tapi nafas tidak pernah bisa diganti. Dan semua yang harus aku lakukan adalah menerimanya.

Orang menciptakan skenario mereka. "Oh, Aku sangat sibuk. Harus melakukan ini; harus melakukan itu." Apalah dayaku? Belajarlah dalam hidupku bagaimana cara menghargai. Dan penghargaanku perlu dimulai dengan satu hal tunggal—bernafas—untuk paham alangkah berharganya itu. Satu kehidupan. Amatlah kritikal bahwa kamu jelas, teguh. Seperti berlibur itu, tiada waktu yang seharusnya diboroskan.

Prem Rawat

©Yayasan Prem Rawat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar