Ketika hati penuh, ketika manusia penuh, kemudian secara otomatis, orang tidak berada dalam dualitas, tidak dalam pertanyaan, tapi dalam jawaban.
Semua orang ingin damai, kemana saja anda pergi. Tidak lama berselang, saya berbicara ke beberapa tawanan, “Apakah anda ingin damai?” “Tentu saja!” Anda bisa berbicara ke orang-orang di dinas Tentara, “Apakah anda ingin damai?” “Ya, tentu saja!” Jadi semua orang ingin damai. Dan kemudian, anda bertanya, “Apakah damai?” Dan di sini, anda menerima jawaban yang mengagetkan. Semua orang punya versi damai mereka sendiri dan semua orang melihatnya dari sudut yang samasekali berbeda.
Di hari yang lain, saya berbicara ke keponakan saya, dan katanya, “Oh, saya cinta warna itu.” Saya berkata, “Anda cinta warna itu? Atau anda suka warna itu?” Katanya, “Apa bedanya?” Saya berkata, “Ada perbedaan yang sangat besar. ‘Suka’ adalah sebenarnya apa yang ingin anda katakan, dan anda bisa memberi tekanan bahwa, ‘saya sangat menyukainya,’ tapi cinta sedikit lebih interaktif daripada yang warna bisa sediakan bagi anda.”
Dan dalam cara yang sama, ketika hening, orang-orang berkata, “Oh, suasanya begitu damai.” Semua yang ada, adalah hening. Orang-orang berpikir ketiadaan perang adalah damai. Mereka punya ide damai mereka. Ada orang-orang yang berpikir damai adalah ketika semua orang berjalan dengan sangat pelan, memakai jubah panjang dengan bunga-bunga pada rambut mereka, dan semua orang disapa dengan lambang damai. Anda tidak berjabat tangan lagi. Barangkali anda hanya menyentuhkan dua jari dan berkata, “Damai.” Yaa, tiada batas untuk itu kan?
Biar saya ceritakan kepada anda sebuah kisah. Dulu ada seorang ratu, dan dia punya kalung yang sangat indah. Pada suatu hari, setelah mandi, dia berada di balkon sedang mengeringkan rambutnya. Dia melepaskan kalungnya dan meletakkannya pada sebuah gantungan. Seekor burung gagak terbang berlalu, melihat kalung bercahaya yang terkena sinar matahari, dan membawanya terbang bersamanya. Tapi burung gagak menjatuhkannya pada sebuah pohon, dan ia terkait pada salah satu cabang.
Dibawah pohon itu ada sungai yang kotor dan bau. Sekarang, ketika sang ratu menjangkau kalungnya dan mendapatinya hilang, dia menjadi sangat marah. “Siapa yang mencurinya?” Dia menyuruh semua orang mencarinya. Tak seorangpun bisa menemukannya. Dia berkata pada raja, “Kalau saya tidak menemukan kalung saya, Saya tidak akan pernah makan lagi.” Si Raja sangat gelisah dan mengirim semua tentaranya dan orang-orang untuk mencarinya—tapi tak seorangpun bisa menemukannya. Jadi si raja akhirnya membuat pengumuman. “Siapapun yang temukan kalung akan mendapat setengah dari kerajaan saya.” Maka orang-orang mulai mencari dengan serius.
Pada suatu hari, seorang jendral berjalan melewati pohon dan melihat kalung itu dalam sungai dibawahnya. Dia langsung terjun ke dalam sungai yang berisi kotoran karena dia menginginkan setengah kerajaan. Seorang Menteri melihat si jendral melompat dalam sungai, dan dia, juga, melihat kalung itu, dan ikut melompat ke dalam. Raja melihat jendral dan menterinya mencari kalung itu, juga melompat ke dalam, dan sekarang mereka bertiga mencari-carinya dalam air. Tak lama kemudian, semakin banyak tentara dan penduduk desa berdatangan, dan mereka semua melompat ke dalam.
Akhirnya, seorang dengan sedikit kebijaksanaan berkata, “Apa yang sedang kalian lakukan? Kalung itu tidak di bawah sana; ia ada di atas sana. Kalian melompat mengejar bayangan.” Maka si raja berkata, “Karena anda yang menemukannya, setengah dari kerajaan adalah milik anda.” Dan manusia bijaksana itu berkata, “saya tidak perlu kerajaan anda. Anda jaga saja.”
Kenapa saya ceritakan kisah ini? Karena itulah apa yang juga kita melakukan. Kita hanya melihat pantulan damai. Itu baik ketika tidak ada perang, tapi itu adalah pantulan damai—itu bukanlah damai itu sendirinya. Damai bermula dengan setiap orang manusia di muka bumi ini. Itulah kalungnya. Semua yang lain adalah sebuah pantulan.
Juga dalam situasi yang paling putus asa, ada harapan. Ini adalah siapa kita adanya. Ada kegembiraan, ada pengertian, ada kekuatan bagi setiap orang manusia. Dan itu adalah kekuatan untuk bergerak maju menuju pintu gerbang kedamaian batin.
Ketika hati penuh, ketika manusia penuh, kemudian secara otomatis, orang tidak berada dalam dualitas, tidak dalam pertanyaan, tapi dalam jawaban. Tidak rumit, tapi sederhana—itulah kita adanya. Ini adalah apa yang kita inginkan; ini adalah siapa kita perlu untuk menjadi. Ini adalah sifat-dasar kita. Ketika kita berada dalam keseimbangan itu dimana hati kita penuh, sifat-dasar kita yang sejati bercahaya. Dan sifat-dasar sejati yang kita miliki adalah indah. Ia adalah sejati. Dan itu adalah tempat dari damai sejati. Kita mencarinya begitu jauh padahal ia ada sangat dekat dengan kita.
Juga dalam situasi yang paling putus asa, ada harapan. Ini adalah siapa kita adanya. Ada kegembiraan, ada pengertian, ada kekuatan bagi setiap orang manusia. Dan itu adalah kekuatan untuk bergerak maju menuju pintu gerbang kedamaian batin.
@ Prem Rawat Foundation
Tidak ada komentar:
Posting Komentar