20 Agustus 2010

Lautan dalam Tetesan

Baru-baru ini, Saya berbicara di India pada banyak acara mengungkapkan bahwa hal yang paling penting yang kita punya adalah eksistensi ini. Ketika andalahir, Anda disuguhi dengan sebuah pengalaman yang disebut kehidupan. Dan dalam kehidupan ini, apa yang Anda punya?

Anda punya nafas. Anda punya hari. Anda punya jam. Anda punya menit. Anda punya detik. Inilah realitas Anda. Ini bukan cerita rekaan. Ini bukan suatu konsep. Apa yang Saya bicarakan, apa yang saya mau alami dalam kehidupan saya, dan apa yang saya ingin Anda alami bukan cerita fiksi. Itu adalah realitas. Realitas yang bisa Anda sentuh, yang bisa Anda rasakan, yang bisa Anda pahami. Penerimaan dalam kehidupan Anda seharusnya karena apa yang Anda tahu, pahami, rasakan. Tidak dalam pikiran, tapi rasa.

Ada seuntai bait indah dari India: “Bahwasanya tetesan bersemayam di lautan, semua orang tahu; tapi bahwasanya lautan bersemayam dalam tetesan, sangat sedikit yang tahu ini.” Saya ingin Anda menjadi jumlah sangat sedikit yang paham ini.

Sesuatu yang luar biasa itu-di dalamnya ada semuanya, tapi hal yang luar biasa itu ada di dalam Anda, juga. Anda adalah tetesan. Bukan tetesan cairan, Anda adalah tetesan. Lautan ada di dalam Anda. Dan ya, Anda bisa merasakan itu. Saya paham itu, karena energi yang sama itu ada di mana-mana datang kepada saya berupa nafas yang menyentuh saya, membawa karunia kehidupan.


“Bahwasanya tetesan bersemayam di lautan, semua orang tahu; tapi bahwasanya lautan bersemayam dalam tetesan, sangat sedikit yang tahu ini.”


Bagi begitu banyak orang, kehidupan berarti, “Anda punya pekerjaan, Anda punya anak, Anda punya rumah, Anda punya kucing, Anda punya anjing….” Itu bukan kehidupan. Itu adalah hal-hal dalam kehidupan Anda. Ada semua hal yang relatip, dan ada satu hal yang mutlak, dan itu ada dalam dirimu. Kamu punya kehidupan. Itu adalah mutlak. Pada suatu waktu ia tidak akan ada. Tapi selama Anda hidup dan Anda punya daya menjadi sadar, menyadari akan sesuatu yang merupakan kehidupan hakiki. Sadar akan eksistensi yang Anda miliki ini karena menginsafi eksistensi itu membawa kesenangan, menginsafi eksistensi itu membawa damai. Kedamaian hakiki.

Apakah kedamaian hakiki itu? Beberapa orang berkata, “Serahkan semua, maka Anda akan mendapatkan damai.” Tidak, tidak begitu. Kalau menyerahkan semua membuat orang-orang damai dan bahagia, mereka akan langsung menutup penjara-penjara, karena ganjarannya akan jadi: Anda melakukan sesuatu salah, dan bukannya mendapat hukuman, Anda ditempatkan di lingkungan dimana Anda menjadi damai dan bahagia. Sehingga itu membuktikan maksud: menyerahkan semua tidak akan membawa damai. Tapi bagaimanapun juga keadaannya, ada tempat di dalam kita, dan kalau kita bisa mencapai tempat itu, kita bisa merasakan damai itu.

Inilah siapa Anda. Inilah siapa Saya. Sesungguhnya dalam tetesan ini yang adalah kita adanya bersemayam lautan damai yang tidak terbatas. Jadilah salah satu dari yang sangat sedikit yang mengetahui ini, karena itu adalah prestasi tiada bandingannya. Anda perlu damai, Anda perlu kebahagiaan, karena Anda adalah seorang manusia. Ini adalah sifat-dasar Anda. Anda tidak bisa mengalahkannya. Ini bukan problem yang harus Anda pecahkan.

Permintaan untuk menjadi bahagia itu datang dari dalam diri Anda. Jangan meremehkannya. Karena selama Anda hidup, permintaan untuk berada dalam kebahagiaan dan dalam damai itu akan ada disana.

Kalau dukacita adalah sebuah pisau, maka kebahagiaan adalah penyembuhnya. Beradalah dalam kebahagiaan.


Alangkah tepatnya bahwa lautan itu bersemayam dalam diri Anda. Kemanapun Anda pergi, ia ada disana. Pada suatu waktu tetesan itu akan pergi dan bersemayam di lautan. Tapi selama keajaiban nafas ini berlangsung, lautan bersemayam dalam ini tetesan yang itu adalah Anda, yang itu adalah Saya. Ketika tetesan bercampur dengan lautan itu, ia tak akan lagi menjadi tetesan. Ia hanya akan menjadi lautan. Tapi selama jangka waktu yang relatip singkat, sesuatu yang luar biasa telah terjadi.

Keajaiban dari yang ajaib telah terjadi. Tetesan dipisahkan dari lautan, dan lautan telah bergerak dalam tetesan. Ini ada;aj realitas. Ini adalah apa yang sedang terjadi. Rebutlah itu. Terpenuhilah. Ikutlah sifat-dasar itu. Beradalah dalam damai. Bersukarialah.

Kalau dukacita adalah sebuah pisau, maka kebahagiaan adalah penyembuhnya. Beradalah dalam kebahagiaan. Anda punya banyak luka, dan luka-luka itu menyebabkan kepedihan. Anda tidak perlu berada dalam kepedihan. Mewujudlah. Hidup. Selama keajaiban ini berlanjut, saksikanlah. Jangan beralih, karena ia akan segera berlalu. Temukan sumber kesenangan yang ada dalam diri Anda. Milikilah damai itu dalam kehidupan Anda setiap hari.


Prem Rawat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar