17 Maret 2010

Pantulan Damai


Ketika hati penuh, ketika manusia penuh, kemudian secara otomatis, orang tidak berada dalam dualitas, tidak dalam pertanyaan, tapi dalam jawaban.


Semua orang ingin damai, kemana saja anda pergi. Tidak lama berselang, saya berbicara ke beberapa tawanan, “Apakah anda ingin damai?” “Tentu saja!” Anda bisa berbicara ke orang-orang di dinas Tentara, “Apakah anda ingin damai?” “Ya, tentu saja!” Jadi semua orang ingin damai. Dan kemudian, anda bertanya, “Apakah damai?” Dan di sini, anda menerima jawaban yang mengagetkan. Semua orang punya versi damai mereka sendiri dan semua orang melihatnya dari sudut yang samasekali berbeda.

Di hari yang lain, saya berbicara ke keponakan saya, dan katanya, “Oh, saya cinta warna itu.” Saya berkata, “Anda cinta warna itu? Atau anda suka warna itu?” Katanya, “Apa bedanya?” Saya berkata, “Ada perbedaan yang sangat besar. ‘Suka’ adalah sebenarnya apa yang ingin anda katakan, dan anda bisa memberi tekanan bahwa, ‘saya sangat menyukainya,’ tapi cinta sedikit lebih interaktif daripada yang warna bisa sediakan bagi anda.”

Dan dalam cara yang sama, ketika hening, orang-orang berkata, “Oh, suasanya begitu damai.” Semua yang ada, adalah hening. Orang-orang berpikir ketiadaan perang adalah damai. Mereka punya ide damai mereka. Ada orang-orang yang berpikir damai adalah ketika semua orang berjalan dengan sangat pelan, memakai jubah panjang dengan bunga-bunga pada rambut mereka, dan semua orang disapa dengan lambang damai. Anda tidak berjabat tangan lagi. Barangkali anda hanya menyentuhkan dua jari dan berkata, “Damai.” Yaa, tiada batas untuk itu kan?

Biar saya ceritakan kepada anda sebuah kisah. Dulu ada seorang ratu, dan dia punya kalung yang sangat indah. Pada suatu hari, setelah mandi, dia berada di balkon sedang mengeringkan rambutnya. Dia melepaskan kalungnya dan meletakkannya pada sebuah gantungan. Seekor burung gagak terbang berlalu, melihat kalung bercahaya yang terkena sinar matahari, dan membawanya terbang bersamanya. Tapi burung gagak menjatuhkannya pada sebuah pohon, dan ia terkait pada salah satu cabang.

Dibawah pohon itu ada sungai yang kotor dan bau. Sekarang, ketika sang ratu menjangkau kalungnya dan mendapatinya hilang, dia menjadi sangat marah. “Siapa yang mencurinya?” Dia menyuruh semua orang mencarinya. Tak seorangpun bisa menemukannya. Dia berkata pada raja, “Kalau saya tidak menemukan kalung saya, Saya tidak akan pernah makan lagi.” Si Raja sangat gelisah dan mengirim semua tentaranya dan orang-orang untuk mencarinya—tapi tak seorangpun bisa menemukannya. Jadi si raja akhirnya membuat pengumuman. “Siapapun yang temukan kalung akan mendapat setengah dari kerajaan saya.” Maka orang-orang mulai mencari dengan serius.

Pada suatu hari, seorang jendral berjalan melewati pohon dan melihat kalung itu dalam sungai dibawahnya. Dia langsung terjun ke dalam sungai yang berisi kotoran karena dia menginginkan setengah kerajaan. Seorang Menteri melihat si jendral melompat dalam sungai, dan dia, juga, melihat kalung itu, dan ikut melompat ke dalam. Raja melihat jendral dan menterinya mencari kalung itu, juga melompat ke dalam, dan sekarang mereka bertiga mencari-carinya dalam air. Tak lama kemudian, semakin banyak tentara dan penduduk desa berdatangan, dan mereka semua melompat ke dalam.

Akhirnya, seorang dengan sedikit kebijaksanaan berkata, “Apa yang sedang kalian lakukan? Kalung itu tidak di bawah sana; ia ada di atas sana. Kalian melompat mengejar bayangan.” Maka si raja berkata, “Karena anda yang menemukannya, setengah dari kerajaan adalah milik anda.” Dan manusia bijaksana itu berkata, “saya tidak perlu kerajaan anda. Anda jaga saja.”

Kenapa saya ceritakan kisah ini? Karena itulah apa yang juga kita melakukan. Kita hanya melihat pantulan damai. Itu baik ketika tidak ada perang, tapi itu adalah pantulan damai—itu bukanlah damai itu sendirinya. Damai bermula dengan setiap orang manusia di muka bumi ini. Itulah kalungnya. Semua yang lain adalah sebuah pantulan.

Juga dalam situasi yang paling putus asa, ada harapan. Ini adalah siapa kita adanya. Ada kegembiraan, ada pengertian, ada kekuatan bagi setiap orang manusia. Dan itu adalah kekuatan untuk bergerak maju menuju pintu gerbang kedamaian batin.



Ketika hati penuh, ketika manusia penuh, kemudian secara otomatis, orang tidak berada dalam dualitas, tidak dalam pertanyaan, tapi dalam jawaban. Tidak rumit, tapi sederhana—itulah kita adanya. Ini adalah apa yang kita inginkan; ini adalah siapa kita perlu untuk menjadi. Ini adalah sifat-dasar kita. Ketika kita berada dalam keseimbangan itu dimana hati kita penuh, sifat-dasar kita yang sejati bercahaya. Dan sifat-dasar sejati yang kita miliki adalah indah. Ia adalah sejati. Dan itu adalah tempat dari damai sejati. Kita mencarinya begitu jauh padahal ia ada sangat dekat dengan kita.

Juga dalam situasi yang paling putus asa, ada harapan. Ini adalah siapa kita adanya. Ada kegembiraan, ada pengertian, ada kekuatan bagi setiap orang manusia. Dan itu adalah kekuatan untuk bergerak maju menuju pintu gerbang kedamaian batin.

@ Prem Rawat Foundation

19 Februari 2010

Takut atau Percaya?

Dunia ini penuh dengan orang yang mencari penyelesaian tanpa mengenali apa masalahnya.


Itu adalah seperti kiasan dari rumah dengan kotoran di sekelilingnya. Setiap hari angin bertiup dan kotoran akhirnya ada di rumahmu. Tiap kali kamu melihat iklan tentang mesin penyedot kotoran atau kamu melihat penemuan baru untuk melenyapkan debu, kamu mendengarkan. Beginilah bagaimana kemajuan kehidupan orang—menunggu, mengharap bahwa seseorang akan muncul dengan alat penghisap debu yang lebih ringan berdaya lebih. Kamu mendengar, "Bawalah milikmu yang lama; kami akan memberimu diskon, dan kamu bisa membawa pulang yang baru, yang lebih baik." Tidak semua orang menanti perangkap tikus yang lebih bagus? Penyelesaian bagi masalah-masalah kita.

Dan seseorang berkata, "Kamu tidak perlu alat penghisap debu; kamu tidak perlu lap. Masalah kotoran ini bisa ditangani." "Tapi, bagaimana bisa?" Beberapa orang dengan sedikit kebijaksanaan berkata, "Oke. Katakan padaku." Penyelesaian? Tanamlah rumput.
Mungkin permukaannya dipasang ubin. Problemmu adalah debu, tapi itu dipertajam oleh kenyataan bahwa ada begitu banyak debu diluar dan ketika kamu membuka jendelamu, angin meniupnya ke dalam.

Apakah itu masuk akal? Tentu. Dalam hidup kamu, perhatikan. Penyelesaian apa yang sedang kamu cari? Apa yang sedang kamu coba pecahkan? Apa yang kamu sebagai seorang manusia—bukan sebagai orang tua, kerabata, karyawan, majikan—apa yang kauinginkan dalam hidup kamu?

Kalau satu hal yang telah kamu kenali terus berubah, kamu belum menemukan keinginan sejatimu. Karena keinginan yang paling sejati tidak berubah. Itu adalah sifat-dasarnya, keindahannya. Ia tidak termakan oleh apa yang terjadi di sekelilingmu—siapa yang datang dan pergi dalam hidup kamu. Ia tidak ada urusannya dengan itu.

Kamu hidup di dunia yang terus-menerus berubah. Kamu tinggal di rumah yang berubah setiap hari. Semua segel pintu memburuk sedikit demi sedikit. Tak peduli betapa kuat rumahmu, ia pelan-pelan ambrol. Bumi bergeser. Semua debu ini yang kamu sudah coba untuk lenyapkan berkumpul, memadat, dan membuat planet bumi ini, dan sekarang ia bergeser. Setiap hari manakala kamu terus menjalankan usahamu, inilah apa yang sedang terjadi. Dan di sini kamu adanya.

Bayangkan bahwa kamu berlibur seminggu, dan kau tahu liburan akan berakhir sejak kamu memulai. Kamu bisa berkata, "Oh, ini mengerikan. Ia akan berakhir." Apakah itu apa yang kamu lakukan—berkeluh-kesah? "Aku tidak berani bersenang-senang karena aku tahu ia akan berakhir." Tidak. Malah sebaliknya. Kamu mau punya waktu terbaik yang mungkin kamu bisa dalam hari-hari itu. Kamu tidak mau melalaikan sekejap, sejampun—kamu mau itu semua. Dan begitulah bagaimana hidup kamu seharus dijalani. Karena liburan ini disebut kehidupan yang akan berakhir. Takut bukanlah maksudnya. Begitu banyak orang terperangkap di dalamnya. Kehidupan ini tak dapat dijalani dalam ketakutan atau meratap. Kehidupan ini perlu dijalani dengan hasrat—akan pengertian, keheningan, perasaan terpenuhi setiap harinya.

Kita mencari penyelesaian ke masalah-masalah kita dalam konsep impian/utopia. Lakukan ini dan itu, dan pada akhirnya datanglah waktu yang sangat bagus ini dimana semuanya sempurna, aku punya realisasi total, semua yang aku lihat adalah keheningan, dan aku tahu semua.

Tidak ada impian/utopia seperti itu. Negari impianmu datang setiap hari, karena setiap hari bahwa kamu hidup adalah sempurna. Bukalah matamu dan lihatlah alangkah indah eksistensi, alangkah indah karunia ini. Kemungkinan.


Baru-baru ini, seekor burung kolibri membangun sarang kecil diluar kantorku, dan meletakkan dua telur kecil. Si ibu akan datang dan duduk, dan kemudian telur itu pecah. Aku memastikan tak seorangpun mengganggunya. Yang pertama keluar, duduk pada cabang, dan kemudian melenturkan sayap-sayapnya. Aku bisa untuk mengambil beberapa foto-foto cantik. Si ibu duduk pada cabang yang lain mengawasi. Kami membuat wadah madu supaya dia bisa mendapat makanan didekatnya, dan dia oke saja dengan itu.

Bayi burung ini harus punya keyakinan mutlak. Takut atau "tidak mengapa" adalah dua pilihan. Tidak logis, tiada pertimbangan. Bukannya, "Seseorang dengan kamera Canon tidak akan merugikanku" atau "Seseorang yang sudah membolehkan saya ada hingga sekarang tidak akan merugikanku." Tidak. Ia mungkin saja menjadi takut sepenuhnya (paranoia) dan panik, tapi ia tidak. Aku akan datang dengan kameraku, dan burung itu akan melihat, sampai dia dapat menguatkan sayapnya untuk terbang dan melesat terbang. Kemudian giliran burung berikutnya, dan dia bahkan lebih kecil. Dia duduk di cabang dan tidak akan pergi. Membutuhkan waktu lebih lama baginya untuk membuat sayap-sayapnya melentur. Kemudian pada suatu hari, dia pergi, juga. Hal yang sama: Ketakutan mutlak atau percaya? Keduanya memilih untuk percaya.

Apa yang kamu pilih dalam hidup kamu? Takut atau percaya?


Kamu bisa beralasan dan menemukan takut. Tapi dengan pengertian, kamu memahami ada begitu banyak keindahan lebih daripada yang aku bisa pernah selami, begitu banyak keheningan lebih daripada aku bisa pernah pahami. Bahwa kehidupan ini adalah karunia paling manis yang aku akan pernah miliki, karunia yang paling berharga, diberikan paling banyak secara bebas/gratis. Mobil atau rumah bisa diganti, tapi nafas tidak pernah bisa diganti. Dan semua yang harus aku lakukan adalah menerimanya.

Orang menciptakan skenario mereka. "Oh, Aku sangat sibuk. Harus melakukan ini; harus melakukan itu." Apalah dayaku? Belajarlah dalam hidupku bagaimana cara menghargai. Dan penghargaanku perlu dimulai dengan satu hal tunggal—bernafas—untuk paham alangkah berharganya itu. Satu kehidupan. Amatlah kritikal bahwa kamu jelas, teguh. Seperti berlibur itu, tiada waktu yang seharusnya diboroskan.

Prem Rawat

©Yayasan Prem Rawat

26 Januari 2010

Taman Kehidupan

Ini adalah kiasan, tapi itu benar: ketika kita datang ke dunia ini, kita diberi benih, dan kesempatannya sesungguhnya adalah apa yang kita lakukan dengan benih ini. Apakah mereka?


Kita bisa memulai dengan barang yang sederhana sekali. Salah satu dari mereka bisa menjadi benih kemarahan. Ada benih keraguan dan benih kebingungan. Tapi ada juga benih kebaikan, benih cinta, benih pengertian. Benih apa saja yang kamu taburkan dalam kebunmu, dalam kebun kehidupan ini, akhirnya, inilah pohon yang dibawahnya kamu akan beristirahat. Betapa menenangkan itu akan menjadi tergantung langsung pada benih mana yang di kamu taburkan.

Ada pepohonan tertentu yang punya bunga yang cantik, tapi mereka menghasilkan getah yang tidak membiarkan rumput untuk tumbuh dibawahnya. Setiap benih punya kwalitas tertentu, sesuatu yang ia suguhkan. Tapi ketika ia ditabur, ketika ia tumbuh dan menjadi pohon, ia akan punya sifat istimewa sekali yang mungkin kamu suka ataupun tidak.


Aku tidak di sini untuk memberikan pernilaian atau mengatakan benih mana yang seharusnya sudah kamu tabur. Aku cuma menunjukkan beberapa sifat. Kamu mampu membuat keputusan itu sendiri. Kamu punya cukup inteligensi untuk memilih dari tempat keheningan apa yang akan paling bermanfaat bagimu. Makhluk manusia, diberi keadaan sehingga mereka bisa melihat dengan jelas, akan membuat keputusan yang benar.

Apakah yang telah kamu tanam? Kalau kamu ingin tahu apa yang telah kamu pelihara, buka saja jendela dan lihatlah ke dalam kebunmu. Kamu akan melihat semua pepohonan yang ada disana.


Kebanyakan dari kita sudah menabur benih kemarahan. Kelihatannya tidak ada keragu-raguan untuk pergi mendekatinya, tapi pada akhirnya yang kamu dapatkan — yang jatuh dari pohon ini—tidak kamu suka. Dan kamu berjanji pada dirimu sendiri kamu tak akan pernah mendekati pohon ini lagi. Tapi entah kamu lupa atau kamu terbiasa menjalani kehidupan ini secara tak sadar, tidak ada keragu-raguan untuk kembali ke pohon itu dan terkena getahnya. Itu menjijikkan, dan kadang-kadang getah ini amat parah sehingga dibutuhkan seumur hidup untuk membuangnya. Dua orang saling mengasihi, dan kemudian tiap-tiap orang secara bergantian mendatangani pohon kecil mereka dan terkena getahnya, dan setelah itu, “aku benci kamu. Aku berharap kamu tidak pernah diciptakan.”

Orang menanam benih keraguan: “Apa itu benar-benar akan terjadi?” Pohon keraguan datang. Itu juga menjijikkan, karena pohon ini punya debu yang keluar darinya dan menutupi semua tempat, dan ia mengambil apa yang bisa jadi cantik dan mengubahnya menjadi tak terharga. Dalam kehidupan, salah satu pelajaran terbesar untuk dipelajari adalah memberi setiap hari baru manfaat dari keraguan positip, “Mungkin hari ini adalah hariku. Mungkin hari ini apa yang akan dia katakan kepadaku akan menjadi berbeda.”

Bagaimana dengan pengertian? Benih itu mungkin belum pernah ditabur, tapi tidak masalah. Kapanpun kamu menaburkan benih ini, mereka akan bertunas, jadi itu tidak pernah terlambat. Tapi apakah pohon pengertian? Kita diajar untuk percaya—”lompatan keyakinan.” Itu bisa jadi sangat berbahaya, dan kamu tidak harus mengambilnya. Kamu bisa menggantikan itu dengan pengertian, pengertian apa makna hidup.

Kebanyakan orang berpikir, “aku tahu apa makna hidup.” Tapi hidup kamu dihubungkan dengan tugasmu, sesuatu yang terjadi di sekelilingmu. Itu bukan hidup kamu. Sesuatu ini ada karena aku ada, tapi mereka bukan eksistensiku. Mereka akan berubah; mereka mungkin muncul dan menghilang, tapi aku akan ada. Di pusatnya adalah hidup kamu, pengertianmu, langkah-langkahmu, perjalananmu, kegembiraanmu, pengisian hatimu, dan proses pemenuhan total sepenuhnya.

Apakah itu untuk terpuaskan? Itu adalah perasaan yang berasal dari dalam dirimu, bagian inti dasar kamu. Seseorang bertanya kepada kamu, “Apakah kamu terpuaskan?” Kamu bisa berkata, “Ya, aku punya pekerjaan bagus, keluarga baik, mobil bagus, teman-teman hebat, dan bahkan binatang piaraanku mendengarkan saya, jadi aku pasti puas.” Tapi apakah kamu terpuaskan? Apakah kamu menaburkan benih pemenuhan?

Datang dan lihatlah pepohonan macam apa yang berada pada kebunmu. Apakah kamu menaburkan biji pengertian? Kita memelihara ketidaksadaran dan kemudian heran apa yang terjadi pada kita dalam kehidupan kita. Itu tak mungkin. Lihatlah kembali pada benih-benih itu yang kamu sudah diberi dan buatlah beberapa keputusan sederhana, terutama kalau kamu melihat dalam halamanmu dan menemukan beberapa pepohonan yang kamu kira seharusnya ada tapi tidak ada. Tidak apa-apa. Benihnya ada di tangan, taburkanlah mereka. Peliharalah mereka.

Peliharalah kebaikan dalam hidup kamu dan kamu akan dibalas dengan karunia kebaikan. Taburkanlah benih cinta dan kamu akan dibalas dengan perasaan cinta paling luar biasa yang menari di dalam hatimu. Taburkanlah benih pengertian dan kamu akan dibalas dengan pengertian. Taburkanlah biji keheningan dan kamu akan dibalas dengan keheningan.


Kenapa kamu seharusnya melakukan itu? Untuk merasa kebaikan. Untuk merasakan cinta sejati itu. Untuk merasakan pengertian sejati itu. Untuk paham seperti apa rsanya tidak berada dalam keraguan. Untuk paham bahwa ada tempat dimana ada jawaban—tidak untuk orang lain, tapi bagimu.

Maharaji



©Prem Rawat Fondasi