02 Januari 2011

Mangkok Yang Berkilauan




" Berkilaulah dengan tanpa cela, karena kamu tidak pernah tahu kapan tsunami itu akan menimpa. "



Aku ingin menceritakan sebuah cerita kecil yang benar-benar terjadi. Ketika aku berada di Pasific untuk tur, seseorang dari Sri Lanka, salah satu dari tempat-tempat yang rusak berat terkena tsunami, mengirimi saya sebuah mangkok. Dengan itu ada sebuah catatan menerangkan bahwa mangkok ini sudah ada di keluarga mereka, dan beberapa hari sebelum tsunami, mereka sudah memutuskan untuk membersihkannya. Mereka melakukannya, memolesnya, membuatnya benar-benar berkilauan.

Kemudian tsunami menimpa, dan semua yang mereka punya hancur, terseret ke laut. Keesokan harinya, mereka pergi untuk melihat kalau-kalau mereka bisa menemukan sesuatu, dan diantara semua sampah yang sudah terseret gelombang ada mangkok ini, bercahaya dibawah sinar matahari. Lautan entah bagaimana telah mengembalikan mangkok itu, dan ia ada di pasir, ditengah-tengah semua sampah—bercahaya.

Kenapa cerita itu penting? Ini adalah kehidupanmu, eksistensimu. Berkilaulah dengan tanpa cela, karena kamu tidak pernah tahu kapan tsunami itu akan menimpa. Pertanyaannya bukan kalau-kalau ia akan menimpa—ia akan menimpa. Dan ketika ia menimpa, begitu banyak yang kita bangga-banggakan, begitu banyak yang telah kita punya stempel sebagai milik kita, begitu banyak yang kita pikir mestinya milik kita, menjadi lenyap. Itu seperti rumah yang terbuat dari kartu disusun diatas satu dengan lainnya. Itu sangat mudah roboh. Satu angin kecil akan meruntuhkannya.

Aku melihat pertentangan bahwa, ditengah-tengah kerusakan dan sampah, sebuah mangkok bercahaya—tidak menyembunyikan dirinya— tapi bercahaya. Dan ia bercahaya cemerlang karena seseorang menyediakan waktu untuk membersihkan dan memolesnya. Masing-masing kita adalah sebuah mangkok. Apakah mangkok ini bercahaya atau tidak? Apa ia ternodai oleh semua baik dan buruk, oleh semua ide, oleh daftar semua hal yang tidak ada dalam kehidupan kita? Kalau begitu, ambillah kain dan buatlah poleslah mangkok ini supaya ia bisa memantulkan kejernihan, karena itulah apa ia sebenarnya: kejernihan.

Apakah yang sudah kita cita-citakan untuk kita capai? Kita lebih tertarik dengan acara-acara kita daripada sesuatu yang akan menfasilitasi semua daftar panjang yang sudah kita buat—kehidupan. Tanpa kehidupan, tidak akan ada acara. Sesuatu yang kita pikir adalah lem dalam kehidupan nyatanya adalah tidak; mereka hanya nampaknya saja begitu. Tak peduli apa yang kamu lakukan—entah kamu berusaha menjadi cakap dalam bisnis, jadi ibu atau ayah yang baik, atau jadi kawan baik— apa yang pada dasarnya mendorong kamu, yang menginginkan kamu untuk berkembang?

Apa sesuatu yang paling penting bagimu sebagai seorang manusia? Sesuatu yang paling penting adalah datang dan perginya nafas ini. Itulah ia adanya. Tanpa nafas itu, bagimu tidak akan ada apapun. “Habis perkara?” Ya begitulah adanya, karena dalam nafas itu terletak kebenaranku, kebijaksanaanku. Itu adalah jamku, itu adalah ritmeku, itu adalah laguku, itu adalah tabuhan genderangku yang aku perlu menari mengikuti iramanya.

Ini adalah semua yang aku telah diberi. Semua yang lain adalah seperti memegang balon udara. Sekali kamu lepaskan, mereka akan pergi. Jauh dan jauh dan jauh. Biarkan aku mengagumi yang aku telah diberi. Biarkan aku membersihkan mangkokku sehingga ia akan bersinar dan bahkan tsunami-pun tidak bisa mengambilnya.

Biarkan kehidupanmu jadi seperti itu. Biarkan ia berkilauan. Itulah kemungkinannya. Damai adalah kemungkinan. Kesenangan adalah kemungkinan. Kepuasan adalah kemungkinan. Terimalah itu dalam kehidupanmu. Pahamilah itu. Ini adalah untuk apa kita berada di sini.

Prem Rawat

20 Agustus 2010

Lautan dalam Tetesan

Baru-baru ini, Saya berbicara di India pada banyak acara mengungkapkan bahwa hal yang paling penting yang kita punya adalah eksistensi ini. Ketika andalahir, Anda disuguhi dengan sebuah pengalaman yang disebut kehidupan. Dan dalam kehidupan ini, apa yang Anda punya?

Anda punya nafas. Anda punya hari. Anda punya jam. Anda punya menit. Anda punya detik. Inilah realitas Anda. Ini bukan cerita rekaan. Ini bukan suatu konsep. Apa yang Saya bicarakan, apa yang saya mau alami dalam kehidupan saya, dan apa yang saya ingin Anda alami bukan cerita fiksi. Itu adalah realitas. Realitas yang bisa Anda sentuh, yang bisa Anda rasakan, yang bisa Anda pahami. Penerimaan dalam kehidupan Anda seharusnya karena apa yang Anda tahu, pahami, rasakan. Tidak dalam pikiran, tapi rasa.

Ada seuntai bait indah dari India: “Bahwasanya tetesan bersemayam di lautan, semua orang tahu; tapi bahwasanya lautan bersemayam dalam tetesan, sangat sedikit yang tahu ini.” Saya ingin Anda menjadi jumlah sangat sedikit yang paham ini.

Sesuatu yang luar biasa itu-di dalamnya ada semuanya, tapi hal yang luar biasa itu ada di dalam Anda, juga. Anda adalah tetesan. Bukan tetesan cairan, Anda adalah tetesan. Lautan ada di dalam Anda. Dan ya, Anda bisa merasakan itu. Saya paham itu, karena energi yang sama itu ada di mana-mana datang kepada saya berupa nafas yang menyentuh saya, membawa karunia kehidupan.


“Bahwasanya tetesan bersemayam di lautan, semua orang tahu; tapi bahwasanya lautan bersemayam dalam tetesan, sangat sedikit yang tahu ini.”


Bagi begitu banyak orang, kehidupan berarti, “Anda punya pekerjaan, Anda punya anak, Anda punya rumah, Anda punya kucing, Anda punya anjing….” Itu bukan kehidupan. Itu adalah hal-hal dalam kehidupan Anda. Ada semua hal yang relatip, dan ada satu hal yang mutlak, dan itu ada dalam dirimu. Kamu punya kehidupan. Itu adalah mutlak. Pada suatu waktu ia tidak akan ada. Tapi selama Anda hidup dan Anda punya daya menjadi sadar, menyadari akan sesuatu yang merupakan kehidupan hakiki. Sadar akan eksistensi yang Anda miliki ini karena menginsafi eksistensi itu membawa kesenangan, menginsafi eksistensi itu membawa damai. Kedamaian hakiki.

Apakah kedamaian hakiki itu? Beberapa orang berkata, “Serahkan semua, maka Anda akan mendapatkan damai.” Tidak, tidak begitu. Kalau menyerahkan semua membuat orang-orang damai dan bahagia, mereka akan langsung menutup penjara-penjara, karena ganjarannya akan jadi: Anda melakukan sesuatu salah, dan bukannya mendapat hukuman, Anda ditempatkan di lingkungan dimana Anda menjadi damai dan bahagia. Sehingga itu membuktikan maksud: menyerahkan semua tidak akan membawa damai. Tapi bagaimanapun juga keadaannya, ada tempat di dalam kita, dan kalau kita bisa mencapai tempat itu, kita bisa merasakan damai itu.

Inilah siapa Anda. Inilah siapa Saya. Sesungguhnya dalam tetesan ini yang adalah kita adanya bersemayam lautan damai yang tidak terbatas. Jadilah salah satu dari yang sangat sedikit yang mengetahui ini, karena itu adalah prestasi tiada bandingannya. Anda perlu damai, Anda perlu kebahagiaan, karena Anda adalah seorang manusia. Ini adalah sifat-dasar Anda. Anda tidak bisa mengalahkannya. Ini bukan problem yang harus Anda pecahkan.

Permintaan untuk menjadi bahagia itu datang dari dalam diri Anda. Jangan meremehkannya. Karena selama Anda hidup, permintaan untuk berada dalam kebahagiaan dan dalam damai itu akan ada disana.

Kalau dukacita adalah sebuah pisau, maka kebahagiaan adalah penyembuhnya. Beradalah dalam kebahagiaan.


Alangkah tepatnya bahwa lautan itu bersemayam dalam diri Anda. Kemanapun Anda pergi, ia ada disana. Pada suatu waktu tetesan itu akan pergi dan bersemayam di lautan. Tapi selama keajaiban nafas ini berlangsung, lautan bersemayam dalam ini tetesan yang itu adalah Anda, yang itu adalah Saya. Ketika tetesan bercampur dengan lautan itu, ia tak akan lagi menjadi tetesan. Ia hanya akan menjadi lautan. Tapi selama jangka waktu yang relatip singkat, sesuatu yang luar biasa telah terjadi.

Keajaiban dari yang ajaib telah terjadi. Tetesan dipisahkan dari lautan, dan lautan telah bergerak dalam tetesan. Ini ada;aj realitas. Ini adalah apa yang sedang terjadi. Rebutlah itu. Terpenuhilah. Ikutlah sifat-dasar itu. Beradalah dalam damai. Bersukarialah.

Kalau dukacita adalah sebuah pisau, maka kebahagiaan adalah penyembuhnya. Beradalah dalam kebahagiaan. Anda punya banyak luka, dan luka-luka itu menyebabkan kepedihan. Anda tidak perlu berada dalam kepedihan. Mewujudlah. Hidup. Selama keajaiban ini berlanjut, saksikanlah. Jangan beralih, karena ia akan segera berlalu. Temukan sumber kesenangan yang ada dalam diri Anda. Milikilah damai itu dalam kehidupan Anda setiap hari.


Prem Rawat

07 Juni 2010

Singa yang Percaya Dirinya adalah Domba

Apa yang aku bicarakan sebenarnya sederhana karena ia adalah tentang kehidupan. Kehidupan, bagi begitu banyak orang sudah menjadi luar biasa sulit. Kita semua tenggelam dalam laut definisi. Pertanyaan sederhana diajukan: “Siapakah kamu?” Dan jumlah jawaban yang kamu terima adalah tak terbayangkan.

Baru-baru ini, aku sedang berbicara di suatu tempat dan mereka punya motto ini: “Melayani di atas diri.” Aku berkata, “Tapi kalau tidak ada diri, apa yang akan melayani? Jadi harus ada diri.” Ini adalah apa yang dikatakan Socrates: “Kenalilah dirimu sendiri.” Apakah artinya untuk mengenali diri yang itu adalah kamu?

Aku punya cerita kecil sederhana yang ayahku biasanya ceritakan. Pada suatu hari, petani berjalan lewati sebuah hutan dan dia bertemu seekor anak singa kecil yang telah tersesat. Dia mengambilnya, membawanya pulang, dan meletakkannya dalam gudang bersama dengan dombanya. Seiring dengan berlalunya waktu, anak singa itu semakin besar, bermain dan merumput dengan domba. Inilah semua yang dia tahu.

Pada suatu waktu, selagi domba-domba sedang merumput, seekor singa besar berjalan keluar dari hutan. Semua domba menjadi ketakutan dan berlari kesana kemari, dan begitu juga dengan singa kecil itu. Si singa besar pergi mendekati singa kecil ini, yang sebenarnys juga tidak kecil lagi, dan berkata, “Kenapa kamu takut aku?” Katanya, “aku adalah seekor domba kecil, dan kamu akan memakanku!” Singa itu berkata, “Kamu bukan domba. Ayo ikut aku.” Dia membawanya ke kolam dan berkata, “Sekarang, lihatlah.” Dan ketika dia melihat, dia terkejut: “aku bukan seekor domba. Aku seperti kamu!” Singa itu berkata, “Itu benar. Kamu seperti aku. Sekarang berhentilah bertingkah seperti domba dan mengaumlah sebagaimana singa besar seharusnya.” Maka singa besar mengaum dan singa kecil mengaum. Dan singa kecil mulai berterima kasih kepada singa besar. Dan singa itu berkata, “Semua yang aku lakukan adalah menunjukkan kepadamu siapa kamu sesungguhnya. Bahkan sebelum aku melangkah keluar dari hutan itu, inilah siapa kamu adanya, karena ini adalah apa kamu yang sesungguhnya.”

Kemampuanmu untuk merasakan kesenangan adalah unik. Ini adalah sifat dasarmu - sebuah bagian dari kamu. Kamu punya keengganan untuk menderita dan ketertarikan pada kesenangan.


Kita, juga, kehilangan siapa kita adanya di muka bumi ini. Kemampuanmu untuk merasakan kesenangan adalah unik. Ini adalah sifat dasarmu - sebuah bagian dari kamu. Kamu punya keengganan untuk menderita dan ketertarikan pada kesenangan. Maka temukan dalam kehidupanmu kesenangan yang tidak pernah berujung, kesenangan yang kamu tidak bisa tinggalkan, kesenangan yang kamu bawa bersamamu kemanapun kamu pergi.

Kalau kamu punya kapal dan ingin melabuhkannya di dermaga, kamu perlu mengikatkannya pada sesuatu yang tidak akan hanyut. Karena itu orang-orang membawa jangkar bersama mereka. Apa itu yang tidak hanyut? Untuk menemukan jawabannya, kamu perlu untuk bisa mengetahui diri sejatimu, karena diri sejatimu adalah yang tidak hanyut. Dalam pikiran, singa itu adalah domba, tapi ketika dia bisa melihat realitas, dia mengerti bahwa dia bukanlah domba.

Realitasmu adalah sederhana. Keinginan untuk terpenuhi sudah selalu ada disana. Keinginan untuk senang hati sudah selalu ada disana. Itu bukan hal baru. Dan keinginan ini akan ada disana sampai akhir hayat. Ia ada sejak semula; ia ada sampai akhir. Keinginan untuk berada dalam damai itu tidak berubah. Kehausan untuk terpenuhi itu tidak berubah. Maka jangkarkanlah ia pada realitas itu, dan kamu tidak akan hanyut. Jangkarkan pada keindahan yang itu ada dalam dirimu, dan kamu tidak akan hanyut. Semua yang lain akan berubah sebagaimana ia selalu begitu. Sebagai ia akan selalu begitu.

Semua terus berubah, kecuali kamu. Ada sesuatu tentang kamu yang tidak berubah. Temukan yang tidak berubah itu. Dan ikatlah dengan baik kapal kehidupan ini pada yang tidak berubah itu. Kemudian, beristirahatlah.